More

    Mahasiswa UMM Perkuat Branding Sekolah dan Hadirkan Inovasi Sensor untuk Tunanetra

    Inovasi Wearable Device Sensor untuk Tunanetra dari Mahasiswa UMM. (Foto: umm.ac.id)

    MALANG, KabarKampus – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan kontribusinya melalui penguatan literasi digital di sekolah sekaligus inovasi teknologi yang berdampak sosial. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat dan pengembangan teknologi, mahasiswa dan dosen UMM berupaya menjawab tantangan era digital dengan pendekatan kreatif dan solutif.

    Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi UMM, Widiya Yutanti, menegaskan bahwa pelajar memiliki peran penting dalam membangun citra sekolah di ruang digital. Hal tersebut disampaikan usai kegiatan “Pelatihan dan Pendampingan Branding dan Digital Marketing untuk Meningkatkan Daya Saing Sekolah Muhammadiyah” yang digelar di SMA Muhammadiyah 1 Bojonegoro, Rabu (12/2).

    Kegiatan yang diikuti sekitar 30 siswa tersebut berfokus pada penguatan identitas sekolah melalui strategi konten berbasis Student Generated Content (SGC). Menurut Widiya, pendekatan ini relevan dengan pola konsumsi informasi generasi muda saat ini.

    - Advertisement -

    “Di era media sosial, orang lebih percaya cerita autentik dari siswa dibandingkan materi promosi formal. Karena itu, siswa perlu dibekali keterampilan menjadi content creator yang mampu menampilkan wajah positif sekolah secara kreatif dan bertanggung jawab,” ujarnya seperti dikutip dari Media Indonesia.

    Ia menjelaskan, program ini dilandasi kesadaran bahwa branding sekolah Muhammadiyah perlu diperkuat melalui promosi digital yang adaptif. Tim pengabdian melihat siswa sebagai agen potensial dalam membangun citra sekolah lewat konten kreatif di media sosial.

    Dalam sesi pelatihan, Isnani Dzuhrina dan Arum Martikasari memperkenalkan konsep dasar branding sekolah, peran Student Generated Content, teknik produksi konten menarik, hingga etika bermedia sosial. Para siswa juga diajak praktik membuat konten bertema “A Day in My School”, mulai dari perencanaan ide, pengambilan gambar, proses editing, hingga publikasi.

    Isnani menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar soal promosi, tetapi membangun kesadaran peran siswa sebagai representasi sekolah di ruang digital. “Apa yang mereka unggah di media sosial turut membentuk persepsi publik. Karena itu, penting untuk memahami prinsip ‘saring sebelum sharing’ agar branding sekolah tetap positif dan profesional,” jelasnya.

    Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal optimalisasi peran siswa sebagai branding agent sekolah, sekaligus meningkatkan daya saing melalui strategi digital marketing yang partisipatif. Salah satu peserta pun mengaku memperoleh perspektif baru dari pelatihan tersebut.

    “Biasanya kami hanya posting kegiatan biasa saja. Setelah pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana membuat konten yang lebih menarik dan bisa memperkenalkan sekolah dengan cara yang seru,” ungkapnya.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here