More

    Mengenang Agus Widjojo Perwira Intelektual dan Pendorong Demokratisasi TNI

    Pemikiran Agus Widjojo tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil, menurut Prof. Didik, diarahkan pada tujuan besar untuk membangun demokrasi modern. “Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern di mana masyarakat madani seimbang dalam trias politika, eksekutif, legislatif dan yudikatif.”

    Prof. Didik juga menegaskan peran penting Agus Widjojo dalam mengakhiri Dwifungsi ABRI. “Agus Widjojo adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI,” tegasnya.

    Pandangan Agus Widjojo tentang relasi militer dan politik dinilai sangat tegas dan konsisten. “Agus Widjojo berpandangan bahwa militer yang profesional, kuat dan paham peranan sejatinya sebagai benteng tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan. Keterlibatan militer dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI.”

    - Advertisement -

    Menurut Prof. Didik, bagi Agus Widjojo, kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis, sementara militer tunduk pada konstitusi dan hukum. “Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan ‘penjaga kekuasaan’, melainkan alat negara untuk pertahanan.”

    Prof. Didik menempatkan Agus Widjojo dalam jajaran perwira intelektual Indonesia bersama tokoh-tokoh seperti almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, Susilo Bambang Yudhoyono, ZA Maulani, dan Prabowo Subianto. Namun, ia menyayangkan bahwa pada generasi perwira saat ini, figur tentara intelektual semakin sulit ditemukan.

    “Namun di kalangan jenderal dan perwira sekarang kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus Widjojo dan kawan-kawan.”

    Sebagai Gubernur Lemhannas RI, Agus Widjojo terus menyalurkan pemikiran strategisnya kepada elit pemerintahan. Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking) yang membentuk cara pandang elit memahami dinamika sistem modern, civil society, geoekonomi dan geopolitik.”

    Prof. Didik menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Indonesia kehilangan seorang pemikir strategis negara yang langka. “Pendek kata, intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya.”

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here