More

    Campus Hiring hingga Isu Prodi Keguruan, UMM Soroti Keterhubungan Dunia Kerja dan Hakikat Pendidikan

    Kritik atas Orientasi Pendidikan yang Terlalu Industri-Sentris

    Di tengah upaya penguatan koneksi dengan industri, muncul pula diskursus kritis dari kalangan akademisi UMM terkait arah kebijakan pendidikan tinggi nasional, khususnya wacana penghapusan program studi keguruan. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa UMM, M. Isnaini, M.Pd., menilai pendekatan yang terlalu berorientasi pada kebutuhan industri berisiko menyederhanakan makna pendidikan.

    “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya.

    - Advertisement -

    Ia menyebut fenomena ini sebagai “tragedi kalkulator pendidikan”, yakni kecenderungan menilai keberhasilan pendidikan hanya berdasarkan angka serapan kerja dan statistik semata. Lebih lanjut, Isnaini menegaskan bahwa pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar mencetak tenaga kerja.

    “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya.

    Menurutnya, perguruan tinggi seharusnya tetap menjadi ruang pembentukan karakter, nilai kemanusiaan, serta kemampuan berpikir kritis yang tidak selalu tercermin dalam indikator statistik. Isnaini juga menyoroti bahwa lulusan kependidikan memiliki peluang karier yang luas, tidak terbatas pada profesi guru formal. 

    Keunggulan mereka terletak pada perspektif humanisti, kemampuan memahami nilai, etika, dan dinamika sosial yang justru sangat dibutuhkan di berbagai sektor. Ia menilai persoalan surplus lulusan bukan terletak pada keberadaan program studi, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum merata.

    “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya.

    Melalui dua dinamika ini, campus hiring sebagai jembatan karier dan kritik terhadap orientasi Pendidikan, UMM menunjukkan peran gandanya sebagai institusi yang adaptif terhadap kebutuhan industri sekaligus kritis dalam menjaga esensi pendidikan.

    Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga manusia utuh yang mampu berpikir kritis, beretika, dan berkontribusi bagi masyarakat luas.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here