Riset Tak Hanya Diukur dari Jumlah Publikasi
Dalam THE WUR 2027, Research Quality tidak berdiri sendiri. Pemeringkatan juga memperhitungkan Teaching dengan bobot 29,5 persen, Research Environment sebesar 29 persen, International Outlook 7,5 persen, serta Industry 4 persen. Maka dari itu, capaian UIN Sunan Kalijaga dan tiga PTKIN lainnya dalam Research Quality tidak semata-mata menunjukkan banyaknya penelitian yang dihasilkan.
Indikator tersebut juga melihat seberapa kuat, unggul, berpengaruh, dan berdampak riset yang dilakukan perguruan tinggi. Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, Sahiron, mengatakan capaian empat PTKIN tersebut menunjukkan bahwa kualitas riset perguruan tinggi Islam semakin diperhitungkan.
“Ini merupakan capaian yang patut diapresiasi. UIN Sunan Kalijaga bahkan menempati posisi pertama dalam daftar tersebut dengan skor 82,8. Tiga PTKIN lainnya juga masuk 10 besar nasional. Ini menunjukkan bahwa kualitas riset PTKIN semakin diperhitungkan,” ujar Sahiron seperti dikutip dari Kemenag.
Ia menjelaskan, Research Quality dalam THE WUR mencakup aspek dampak, kekuatan, keunggulan, dan pengaruh penelitian. Dengan demikian, kualitas riset tidak cukup dilihat dari jumlah publikasi, tetapi juga kontribusinya terhadap perkembangan pengetahuan dan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin turut mengapresiasi pencapaian empat PTKIN tersebut. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan kapasitas PTKIN dalam menghasilkan penelitian berkualitas semakin kuat. “Ini merupakan capaian yang sangat membanggakan bagi Kementerian Agama dan seluruh keluarga besar PTKIN,” ujar Kamaruddin.
Ia berharap capaian tersebut tidak berhenti pada empat kampus yang masuk dalam daftar 10 besar. “Empat PTKIN yang telah menunjukkan capaian ini diharapkan tidak hanya mempertahankan prestasinya, tetapi juga dapat memberikan penguatan kepada PTKIN lainnya, khususnya dalam membangun ekosistem penelitian yang berkualitas,” lanjutnya.
PTKIN yang telah menunjukkan kinerja baik dalam riset diharapkan dapat ikut memperkuat ekosistem penelitian di lingkungan PTKIN lainnya. Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Suyitno menilai capaian tersebut memperlihatkan perkembangan PTKIN yang tidak hanya berlangsung pada bidang pendidikan dan pengajaran.
Menurut Suyitno, penguatan ekosistem penelitian menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan tinggi keagamaan Islam. “Capaian ini menunjukkan bahwa PTKIN tidak hanya berkembang dalam aspek pendidikan dan pengajaran, tetapi juga semakin kuat dalam menghasilkan riset yang berkualitas dan memberikan kontribusi bagi masyarakat,” ungkap Suyitno.
PTKIN didorong meningkatkan kualitas penelitian, publikasi ilmiah, kolaborasi akademik, sekaligus memastikan hasil riset dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. “Prestasi ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas. Kita ingin riset PTKIN semakin relevan, memiliki dampak, dan mampu berkontribusi dalam menjawab tantangan bangsa dan kemanusiaan,” katanya.
Ke depan, penguatan riset menjadi pekerjaan lanjutan bagi PTKIN agar capaian pemeringkatan dapat diikuti dengan peningkatan kontribusi akademik. Kolaborasi penelitian, publikasi berkualitas, dan pemanfaatan hasil riset menjadi sejumlah aspek yang perlu terus dikembangkan agar penelitian perguruan tingi tidak berhenti pada pencapaian peringkat.






