More

    Menonton NAZA, Mendengar Pengakuan Tentara Israel

    Oleh: Dina Yulianti Sulaeman*

    Saat anggota Free Palestine Network (FPN) Bandung Raya bersiap nonton film Naza di bioskop CGV Bandung Electronic Center (BEC), Jl Purnawarman, Kota Bandung, Jum’at 30 Oktober 2026. (Foto: Dok FPN)

    Di atap sebuah gedung di Tel Aviv, seorang tentara Israel bercerita tentang pekerjaannya menyadap percakapan orang-orang Palestina. Wawancara berlangsung malam hari, dengan latar gedung-gedung apartemen yang sebagian jendelanya terbuka. Dari kejauhan, kamera memperlihatkan penghuni yang sedang memasak, menonton televisi, atau beristirahat. Di tengah kehidupan yang tampak biasa itulah, kita mendengar cerita tentang bagaimana sebuah keluarga di Gaza dipantau sebelum rumah mereka dibom.

    Saya menonton dokumenter NAZA dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kesaksian para narasumbernya begitu mengerikan, sementara cara sebagian dari mereka menceritakan pengalaman itu terasa seperti sedang membicarakan pekerjaan sehari-hari. Ada yang terganggu oleh ingatan tentang korban, tetapi ada pula yang menyebut pembunuhan dari jauh itu seperti bermain gim. Ketika ditanya bagaimana rasanya, salah seorang menjawab bahwa hal itu “benar-benar menyenangkan.”

    - Advertisement -

    Judul film ini diambil dari istilah militer Israel untuk kerusakan kolateral (collateral damage), yakni korban sipil yang diperkirakan akan jatuh dalam sebuah serangan. Istilah kerusakan kolateral selama ini memberi kesan bahwa warga sipil itu terbunuh akibat keadaan yang tidak diinginkan. Warga Gaza yang akan terbunuh “tidak sengaja” itu disebut NAZA. Mereka membicarakan berapa orang yang diperbolehkan mati untuk membunuh satu sasaran. Bahkan ada kesaksian tentang persetujuan serangan yang memperkirakan kematian 500 warga sipil demi satu orang. Seorang narasumber mengakui bahwa meskipun mereka menggunakan istilah NAZA, kenyataannya mereka sengaja membunuh orang-orang itu.

    Film ini memperlihatkan peran teknologi AI seperti “Lavender” dalam mengidentifikasi lokasi orang-orang yang ditandai sebagai sasaran IDF. Teknologi yang dinamai “Where’s Daddy?” digunakan untuk menyadap telepon dua juta warga Gaza dan mendeteksi kata “ayah” dan “pulang” untuk mengetahui kapan sasaran pulang ke rumah dan saat itulah bom diluncurkan untuk menghancurkan rumah mereka. Rumah itu dihancurkan dengan informasi akurat bahwa ada anak-anak, ibu, kakek, nenek, di dalamnya.

    Seorang tentara menceritakan bagaimana ia mendengarkan kehidupan sebuah keluarga menjelang pengeboman. Ada suara bayi dan orang berdoa, ada percakapan saat-saat terakhir mereka sebelum rumah itu dihancurkan. Kesaksian lain datang dari seorang yang meretas telepon sasaran dan menemukan foto selfie seorang ayah bersama dua anak perempuannya. Ketika rumah itu dibom, ternyata sang ayah sudah pergi, sementara teleponnya tertinggal. Kedua anak perempuannya masih berada di rumah dan gugur dalam serangan itu. Narasumber tersebut mengaku terus terbayang wajah mereka, wajah yang sudah dilihatnya sebelum pengeboman dilakukan.

    Pengakuan-pengakuan ini membuat NAZA menjadi dokumenter yang penting. Peran AI dalam genosida Gaza sudah banyak disampaikan para pengamat dan dicatat para penulis. Namun kali ini, kita mendengar sendiri pengakuan dari pelaku para insinyur Zionis pengguna AI dalam genosida itu. Dari kantor mereka di Tel Aviv, dari depan layar komputer, mereka menetapkan target, lalu jet tempur mengeksekusinya.

    Kritik Film Naza

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here