More

    The Voice of Hind Rajab: Suara Anak Gaza yang Tidak Bisa Dibungkam 

    Telepon itu berdering dari sebuah mobil di Gaza. Di ujung sana bukan tentara, bukan wartawan, bukan pula seorang politisi yang sedang menyampaikan pidato tentang perang. Hanya seorang anak perempuan kecil.

    Namanya Hind Rajab.

    Di sekelilingnya tergeletak anggota keluarganya yang telah tewas. Di luar mobil, kendaraan lapis baja Israel berada tidak jauh dari tempatnya terjebak. Hind terluka, ketakutan, haus, dan sendirian. Melalui sambungan telepon dengan petugas Palestine Red Crescent Society atau Bulan Sabit Merah Palestina, ia terus meminta seseorang datang menjemputnya.

    - Advertisement -

    Ia tidak meminta dunia menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Tidak meminta resolusi PBB. Tidak mengerti Konvensi Jenewa ataupun perdebatan mengenai solusi dua negara.

    Ia hanya ingin diselamatkan.

    Dan justru karena permintaannya begitu sederhana, The Voice of Hind Rajab menjadi film yang begitu sulit dilupakan.

    Film garapan sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania ini melakukan sesuatu yang jarang berani dilakukan sinema perang: ia hampir tidak memperlihatkan perang. Tidak ada parade ledakan spektakuler. Tidak ada kamera yang mengejar rudal. Tidak ada tubuh bergelimpangan yang dipertontonkan untuk memaksa penonton menangis.

    Yang kita dengar adalah suara.

    Dan suara itu ternyata jauh lebih mengerikan.

    Hind Rajab. (Foto: X @PalestineRCS)

    Ketika Suara Lebih Mengerikan daripada Gambar

    The Voice of Hind Rajab berdurasi sekitar 89–90 menit dan menggunakan bahasa Arab. Film produksi Tunisia-Prancis ini dibintangi Saja Kilani, Motaz Malhees, Clara Khoury, dan Amer Hlehel. Sebagian besar cerita berlangsung di ruang kerja petugas Bulan Sabit Merah Palestina yang berusaha mengatur penyelamatan Hind.

    Tetapi ada satu pemeran yang tidak sedang berakting.

    Hind sendiri.

    Ben Hania menggunakan rekaman suara asli Hind dari komunikasi darurat pada 29 Januari 2024. Para aktor bermain mengelilingi sesuatu yang nyata: suara seorang anak yang sesungguhnya sedang menghadapi kematian.

    Di sinilah film menjadi pengalaman sinematik yang tidak nyaman sekaligus luar biasa kuat.

    Kita mengetahui bahwa orang-orang di pusat komunikasi ingin menyelamatkannya. Kita melihat mereka menelepon, berdebat, menunggu koordinasi dan izin agar ambulans dapat bergerak menuju lokasi. Namun semakin panjang waktunya, semakin penonton memahami sebuah kenyataan yang mengerikan: bagi seorang anak yang sedang ditembaki, prosedur beberapa menit saja dapat berarti perbedaan antara hidup dan mati.

    Ben Hania menjadikan penantian sebagai horor.

    Sang sutradara mengatakan bahwa ia sengaja memusatkan film pada sesuatu yang tidak terlihat: rasa takut, penantian, dan keheningan ketika pertolongan tak kunjung tiba. Menurutnya, sinema dapat menjadi alat untuk mempertahankan ingatan melawan lupa.

    Itulah inti estetika film ini.

    The Voice of Hind Rajab sebenarnya bukan sekedar film tentang bagaimana seorang anak mati.

    Ia juga adalah film tentang berapa lama dunia membiarkan seorang anak menunggu sebelum mati.

    Siapa Sebenarnya Hind Rajab?

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here