More

    Jangan Sampai 4 Tahun Kuliah Hanya Mengejar IPK

    Penulis: Randy Aprialdi*

    Memasuki dunia perkuliahan sering kali diiringi target yang sederhana, yaitu mendapatkan nilai bagus, mempertahankan IPK tinggi, lalu lulus dengan predikat membanggakan. Target tersebut tentu tidak salah. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan tentang kuliah bukan hanya tentang mengumpulkan angka di transkrip nilai.

    Bagi mahasiswa baru, empat tahun masa perkuliahan merupakan kesempatan untuk membangun lebih banyak hal daripada sekadar IPK. Ada kemampuan berkomunikasi, pengalaman berorganisasi, jejaring pertemanan, kemampuan bekerja dalam tim, pengalaman menghadapi masalah, hingga kesempatan mengenali bidang yang benar-benar ingin ditekuni.

    - Advertisement -

    Hal tersebut semakin relevan ketika dunia kerja tidak hanya melihat latar belakang pendidikan. Kemampuan teknis, pengalaman, portofolio, kemampuan beradaptasi, komunikasi, serta pengalaman menyelesaikan persoalan nyata juga menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses profesional.

    Bahkan, sejumlah perguruan tinggi mulai mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang eksplorasi dan pengembangan diri. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, misalnya, ketika memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru UPN Veteran Jakarta pada Agustus 2026, mengajak mahasiswa memaknai masa kuliah sebagai kesempatan untuk membangun pengalaman dan memperluas wawasan.

    IPK tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan mahasiswa. Nilai akademik dapat menjadi indikator kedisiplinan dalam mengikuti perkuliahan dan memahami materi. Dalam beberapa kesempatan, IPK juga menjadi salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa, mengikuti program tertentu, atau mendaftar ke perusahaan dan institusi yang menetapkan batas nilai akademik.

    Oleh karena itu, bukan berarti mahasiswa baru boleh mengabaikan kuliah demi mengejar berbagai aktivitas di luar kelas. Persoalannya adalah ketika IPK menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Mahasiswa bisa saja memiliki nilai sangat baik, tetapi belum pernah bekerja dalam sebuah tim.

     Ada pula yang mampu mengerjakan ujian dengan sempurna, tetapi kesulitan menyampaikan gagasan di depan orang lain. Begitu juga mahasiswa yang memiliki transkrip akademik bagus, tetapi belum pernah membuat sebuah karya atau terlibat dalam proyek nyata.

    Artinya, menjaga prestasi akademik dan membangun kemampuan lain seharusnya berjalan beriringan.

    Bukan Waktunya Takut Mencoba

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here