
Kesempatan mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional tidak selalu harus diwujudkan melalui program studi atau pertukaran pelajar dalam jangka panjang. Kegiatan lintas budaya dan pembangunan jejaring global juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran di perguruan tinggi.
Hal tersebut tercermin dari keterlibatan tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dalam Global Youth Culture Camp 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan, pada 6–12 Agustus 2026.
Ketiga mahasiswa tersebut yakni Rahmat Mulkyansah dan Kevin Vincenzo Edbert dari Program Studi Arsitektur serta Ronald Clement Pangestu dari Program Studi Teknik Sipil. Mereka menjadi perwakilan Indonesia dalam program yang mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk mengenal budaya sekaligus membangun hubungan lintas negara.
Global Youth Culture Camp merupakan program yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk-do untuk memperkenalkan kebudayaan Korea Selatan sekaligus mempererat interaksi antarpemuda dari berbagai belahan dunia. Pada penyelenggaraan ke-9 tahun ini, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang memperoleh kesempatan untuk mengirimkan peserta.
Proses seleksi dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengumpulan data diri dan motivation letter, kemudian dilanjutkan wawancara. Peserta yang lolos dari Indonesia selanjutnya masih harus menjalani proses seleksi dari pihak Korea Selatan.
Tahun ini, program tersebut mempertemukan peserta dari enam negara, yaitu Indonesia, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Vietnam, dan Polandia. Selain mengikuti rangkaian kegiatan budaya, para peserta tinggal dan beraktivitas bersama sehingga memiliki kesempatan untuk mengenal kebiasaan, pemikiran, serta kehidupan sehari-hari dari negara lain.
Bagi Rahmat, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pertukaran budaya tidak hanya berbicara mengenai pengenalan tradisi masing-masing negara. Interaksi antarpeserta juga dapat menjadi sarana membangun hubungan yang lebih luas. “Bukan cuma buat mengenalkan budaya, tapi mempererat hubungan. Justru bukan cuma hubungan antara anak muda kalau menurut aku pribadi. Sebenarnya ini sudah menyangkut ke negara,” ungkapnya seperti dikutip dari situs Kemendisaintek.
Ronald juga merasakan manfaat interaksi lintas budaya melalui aktivitas sehari-hari selama mengikuti program. Salah satu pengalaman yang berkesan baginya adalah kesempatan berdiskusi dengan peserta dari Polandia. “Dari hal-hal kecil yang nggak kita expect, kami jadi punya teman baru, bisa berdiskusi, dan menambah wawasan juga,” ucapnya.
Sementara itu, keikutsertaan dalam program tersebut turut mengubah pandangan Kevin terhadap kemampuan dirinya. Ia sempat merasa kurang yakin dapat melewati proses seleksi yang dinilainya cukup kompetitif. Namun, keberhasilannya menjadi peserta justru memberikan pengalaman yang memperkuat rasa percaya dirinya utuk mengambil kesempatan baru.
Pengalaman ketiga mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa program internasional dapat memberikan manfaat yang tidak terbatas pada pengetahuan mengenai negara lain. Kemampuan berkomunikasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun relasi, serta memahami perspektif yang berbeda juga menjadi bagian dari pengalaman yang diperoleh mahasiswa.
Membawa Dunia ke Dalam Kampus
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






