
Hind Hanyalah Satu Nama dari Puluhan Ribu Anak
Di titik inilah film Ben Hania mencapai makna politiknya yang paling besar.
Kesalahan termudah setelah menonton film ini adalah menganggap Hind sebagai sebuah tragedi luar biasa—sebuah kasus ekstrem yang kebetulan berhasil direkam.
Data menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Hind bukan pengecualian.
Menurut UNICEF, hingga 3 Februari 2026, sedikitnya 21.289 anak dilaporkan telah terbunuh di Gaza sejak 7 Oktober 2023. Pada periode yang sama, sedikitnya 44.500 anak dilaporkan terluka, sementara lebih dari 11.000 anak mengalami cedera yang mengubah kehidupan mereka secara permanen. Total korban Palestina yang dilaporkan meninggal ketika itu mencapai 71.803 orang.
Artinya, jumlah anak Palestina yang terbunuh saja sudah setara dengan populasi sebuah kota kecil.
Dan kematian itu tidak berhenti setelah gencatan senjata Oktober 2025.
Pada 6 Agustus 2026, UNICEF melaporkan sedikitnya 300 anak telah terbunuh dalam 300 hari sejak gencatan senjata diumumkan—rata-rata seorang anak setiap hari.
Bahkan pada akhir Agustus 2026, United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA) masih melaporkan korban baru akibat aktivitas militer di Gaza. Sejak pengumuman gencatan senjata 10 Oktober 2025 hingga 26 Agustus 2026 saja, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.303 orang kembali terbunuh dan 4.336 terluka.
Secara keseluruhan, pada awal September 2026 otoritas kesehatan Gaza melaporkan jumlah korban Palestina telah melampaui 73.000 orang, sementara ribuan lainnya diyakini masih berada di bawah reruntuhan.
Angka-angka korban berasal dari beberapa lembaga dengan tanggal pemutakhiran dan metodologi berbeda; OCHA sendiri secara eksplisit membedakan angka yang telah diverifikasi PBB dengan angka yang masih dikaitkan kepada Kementerian Kesehatan Gaza.
Namun dalam semua dataset itu, satu kesimpulan tidak berubah: anak-anak menanggung kehancuran dalam skala luar biasa besar.
Anak-anak yang selamat pun tidak benar-benar selamat.
Kematian hanyalah salah satu ukuran.
World Health Organization (WHO) pada Mei 2026 memperkirakan sekitar 43.000 warga Gaza mengalami cedera yang mengubah kehidupan, dan sekitar seperempatnya—kurang lebih 10.000 orang—adalah anak-anak. Lebih dari 5.000 kasus amputasi traumatis telah tercatat; dari kelompok pasien amputasi yang dievaluasi, sekitar 18 persen merupakan anak-anak.
Sementara itu, sekitar 800.000 anak Gaza masih hidup dalam pengungsian pada awal 2026.
Krisis bukan hanya datang dari bom.
Pada pertengahan 2026 UNICEF memperkirakan 82 persen keluarga mengalami ketidakamanan air, sementara hingga 70 persen tidak dapat memperoleh bahkan enam liter air per orang per hari untuk minum dan memasak—angka yang sudah berada pada batas minimum kebutuhan darurat. Hampir 90 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza telah rusak atau hancur.
Dalam laporan tahunannya, UNICEF juga menggambarkan hampir satu juta anak Gaza telah mengalami pengalaman traumatis akibat perang, dengan puluhan ribu kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka.
Maka ketika kita mendengar Hind mengatakan bahwa ia takut, ketakutan itu sebenarnya sedang bergema dalam kehidupan satu generasi anak Palestina.
Ketika Kata “Genosida” Tidak Lagi Sekadar Slogan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






