
Film yang Mengubah Statistik Kembali Menjadi Manusia
Inilah pencapaian terbesar The Voice of Hind Rajab.
Kita hidup pada zaman ketika kematian bisa berubah menjadi angka begitu cepat.
10.000.
20.000.
50.000.
70.000.
Pada titik tertentu otak manusia kehilangan kemampuan untuk membayangkannya. Angka yang terlalu besar justru membuat penderitaan menjadi abstrak.
Kaouther Ben Hania melakukan gerakan sebaliknya.
Ia mengambil puluhan ribu korban dan mengembalikannya menjadi satu anak.
Satu suara.
Satu mobil.
Satu telepon.
Satu ambulans.
Satu permintaan agar seseorang datang.
Karena itu tidak mengherankan ketika film ini diputar perdana di Festival Film Venesia pada September 2025, penonton memberikan standing ovation lebih dari 20 menit. Film tersebut kemudian meraih Silver Lion—Grand Jury Prize serta 7 penghargaan paralel lainnya di Venice International Film Festival ke-82.
Pada Gala Cinema For Peace di Berlin (Februari 2026) menerima penghargaan sebagai “Film Paling Berharga” (Most Valuable Film) dalam kategori Penghargaan Keadilan dan Kehormatan. Sedangkan di Festival Film San Sebastian yang digelar di Spanyol (September 2025) meraih Audience Award.
Film ini kemudian menjadi wakil Tunisia dan memperoleh nominasi Academy Award 2026 untuk Best International Feature Film.
Pada Golden Globe Awards ke-83 masuk nominasi untuk kategori Film Berbahasa Non-Inggris Terbaik.
Tetapi penghargaan-penghargaan itu terasa hampir sekunder.
Sebab setelah film selesai, pertanyaan yang tersisa bukan apakah sinematografinya bagus, apakah aktornya meyakinkan, atau berapa banyak piala yang berhasil dibawanya pulang.
Pertanyaannya jauh lebih sederhana:
Mengapa seorang anak harus menelepon selama berjam-jam agar dunia bersedia menyelamatkannya?
Dan pertanyaan kedua bahkan lebih menyakitkan:
Jika dunia telah mendengar suara Hind Rajab, apa alasan kita untuk mengatakan bahwa kita tidak tahu?
The Voice of Hind Rajab yang tayang di Indonesia 26 November 2025 tersebut akhirnya bukan hanya film mengenai Palestina. Ia adalah film mengenai kegagalan paling elementer manusia: kegagalan melindungi seorang anak ketika suara anak itu sudah sampai ke telinga kita.
Tubuh Hind ditemukan 12 hari setelah ia meminta pertolongan.
Tetapi suaranya tidak ikut terkubur.
Kaouther Ben Hania memastikan itu.
Dan mungkin itulah kekuatan politik terbesar sebuah film: ketika manusia dapat dibunuh, rumah dapat dihancurkan, dan kota dapat diratakan—ingatan masih bisa melawan.
*Penulis: Furqan AMC, Sekjen Free Palestine Network (FPN)






