Film karya dua sineas Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, ini tentu tidak lepas dari kritik. Meski berani, menempuh risiko besar, dan didorong oleh kegelisahan menyaksikan besarnya korban genosida di Gaza, namun cara pandang film ini tetaplah cara pandang Israel. Film dibuka dengan mengulang narasi “Hamas membunuh 1.200 orang dan menyandera ratusan orang pada 7 Oktober 2023.” Narasi ini seolah ditempatkan untuk memberi konteks “mengapa Israel menyerang Gaza?”
Padahal, angka 1200 itu sama sekali tidak terbukti dilakukan Hamas. Media-media Israel sendiri telah memberitakan penggunaan Hannibal Directive, yaitu, perintah untuk membunuh orang-orang Israel sendiri demi membunuh “teroris”. Dengan kata lain, orang-orang Israel di 7 Oktober 2023 sebenarnya adalah NAZA. Mereka dikorbankan oleh tentara Israel dalam operasi pembunuhan terhadap para milisi Hamas. Ketika cerita dimulai dengan serangan Hamas, pemboman Gaza seolah harus dipahami sebagai respons Israel, yang kemudian –dalam pandangan sutradara—kebablasan. Tapi, ini pun sudah memunculkan kemarahan rezim Zionis. Mereka bahkan membuat film ‘tandingan’ dengan judul sama, untuk memutarbalikkan fakta yang dibahas di film NAZA yang asli.
Bagian lain yang penting dicatat adalah bagian tentang “Departemen Bibi” [Bibi adalah nama panggilan Netanyahu]. Menurut kesaksian dalam film, teknologi AI juga dipakai menyadap orang-orang Palestina yang berjuang melalui diplomasi dan jalur hukum internasional. Informasi pribadi mereka dicari untuk dijadikan bahan pemerasan, sehingga upaya memperjuangkan hak Palestina dapat dilemahkan. Salah seorang narasumber menyebut pekerjaan mereka sebagai upaya menggagalkan perdamaian.
Artinya, yang ingin ditumpas Israel bukan hanya perlawanan bersenjata (dengan dalih “menumpas terorisme”), tapi juga perlawanan diplomatik. Israel ingin menghancurkan semua warga Palestina, apapun yang mereka lakukan, diam, atau melawan. Saat mengingat aksi penghancuran rumah dan permukiman di Gaza, seorang tentara mengatakan, “Kami menghapus sejarah.” Mereka ingin menguasai seluruh tanah Palestina dan menghapus semua jejak sejarahnya. Namun tentu saja, itu harapan kosong. Keberanian dua sutradara muda Israel mengungkap kejahatan rezim Zionis adalah salah satu bukti kekosongan harapan itu. Akan selalu ada yang mencatat dan kelak, para penjahat Zionis itu akan berhadapan dengan pedang keadilan.[]
*Akademisi Hubungan Internasional Universitas Padjadajaran.






