
Melalui film dokumenter NAZA, dua sineas Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, membongkar kesaksian orang-orang dari dalam militer Israel tentang bagaimana teknologi kecerdasan buatan, sistem intelijen, dan keputusan para komandan digunakan dalam operasi pengeboman Gaza. Sebuah film yang menghadapkan dunia pada pertanyaan paling mengerikan: bagaimana kematian ribuan manusia bisa dianggap sebagai angka yang dapat diterima?
Malam menyelimuti Tel Aviv. Lampu-lampu gedung berkilauan. Kendaraan melintas di jalanan. Kehidupan berjalan sebagaimana biasanya di sebuah kota modern.
Di atas atap gedung, beberapa lelaki duduk dalam kegelapan. Wajah mereka disamarkan. Suara mereka diubah. Mereka bukan korban perang, bukan pula penduduk Gaza yang rumahnya telah menjadi reruntuhan.
Mereka adalah orang-orang yang pernah bekerja dalam sistem militer dan intelijen Israel.
Di balik penyamaran itu, mereka mulai menceritakan sesuatu yang menggetarkan nurani: bagaimana sebuah rumah dipilih sebagai sasaran pengeboman, bagaimana manusia dilacak hingga ke tempat tinggalnya, dan bagaimana jumlah warga sipil yang mungkin terbunuh dihitung sebelum sebuah serangan dilaksanakan.
Di Gaza, rumah-rumah yang menjadi sasaran itu bukan sekadar bangunan. Di dalamnya ada keluarga. Ada anak-anak yang tidur di samping orang tuanya. Ada manusia yang mungkin sedang menikmati makan malam terakhir mereka, tanpa pernah mengetahui bahwa nasibnya sedang diperhitungkan di tempat lain.
Sementara di Tel Aviv, keputusan hidup dan mati itu dapat berlangsung di depan layar komputer.
Inilah dunia yang dibongkar dalam NAZA, film dokumenter investigasi karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua sineas Israel yang sebelumnya meraih Oscar melalui No Other Land (2024), bersama dua sutradara Palestina, Basel Adra dan Hamdan Ballal.
Diproduksi oleh The Guardian bersama JW Films, dengan Jonathan Glazer sebagai salah satu produser eksekutif, film berdurasi sekitar 80 menit ini mengajak penonton menelusuri sisi paling gelap dari operasi militer Israel di Gaza.
Bukan hanya kehancurannya, tetapi juga sistem yang memungkinkan kehancuran tersebut terjadi.
NAZA: Ketika Kematian Manusia Menjadi Angka
Dalam terminologi militer Israel, NAZA merupakan singkatan dari istilah Ibrani nezek agavi, yang secara umum berarti kerusakan kolateral.
Namun, di dalam film ini, istilah tersebut mendapatkan makna yang jauh lebih mengerikan.
NAZA digunakan untuk menggambarkan jumlah warga sipil yang diperkirakan akan terbunuh dalam sebuah operasi militer.
Bayangkan sebuah ruangan tempat perwira intelijen mempelajari data mengenai seseorang yang diduga merupakan anggota kelompok bersenjata. Mereka mengetahui lokasinya, rumah yang ditempatinya, bahkan memperkirakan berapa banyak orang yang berada di sekitarnya.
Di antara orang-orang tersebut mungkin terdapat istri, anak-anak, orang tua, dan tetangga.
Tetapi keberadaan mereka tidak dengan sendirinya membatalkan serangan.
Melalui kesaksian 24 anggota militer dan intelijen Israel yang identitasnya dirahasiakan, NAZA memperlihatkan bagaimana kematian warga sipil dapat dimasukkan ke dalam proses penentuan sasaran.
Salah satu narasumber bahkan mengungkapkan bahwa persetujuan pernah diberikan untuk sebuah operasi yang menargetkan satu anggota Hamas dengan perkiraan korban mencapai 500 warga sipil. Militer Israel membantah klaim tersebut.
Angka 500 itu bukan sekadar statistik.
Jika setiap manusia memiliki seorang ibu, seorang ayah, seorang sahabat, dan kisah hidup yang tidak tergantikan, maka angka tersebut menyimpan ratusan dunia yang berpotensi lenyap dalam satu serangan.
Di sinilah kekuatan sekaligus kengerian NAZA.
Film ini menunjukkan bagaimana bahasa birokrasi dapat mengubah tragedi kemanusiaan menjadi persoalan kalkulasi.
Kematian tidak lagi hanya dibicarakan sebagai kehilangan nyawa, tetapi sebagai konsekuensi operasional yang diperkirakan sejak awal.
Manusia berubah menjadi angka. Keluarga menjadi risiko. Kehidupan menjadi variabel dalam perhitungan militer.
Ketika Kecerdasan Buatan Membantu Menentukan Sasaran
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






