More

    NAZA: Film Dokumenter Kesaksian Tentara Israel yang Melakukan Genosida

    Orang-Orang Biasa dalam Mesin Penghancuran

    NAZA tidak menampilkan para narasumbernya sebagai tokoh antagonis dalam film fiksi.

    Sebaliknya, para perwira dan anggota intelijen itu berbicara dengan cara yang sering kali tenang, teknis, bahkan terdengar biasa.

    - Advertisement -

    Ada yang mengungkapkan rasa bersalah. Ada yang berbicara dengan jarak emosional. Ada pula yang menggambarkan pekerjaannya dengan kebanggaan.

    Salah satu alasan yang muncul adalah bahwa dirinya hanya menjalankan tugas teknis, bagian kecil dari sebuah sistem yang lebih besar.

    Di sinilah NAZA mengajukan pertanyaan yang melampaui perang di Gaza.

    Bagaimana kekerasan berskala besar dapat berlangsung ketika masing-masing orang merasa hanya memikul sebagian kecil tanggung jawab?

    Seseorang mengumpulkan data. Orang lain menyusun rekomendasi. Perwira berikutnya memberikan persetujuan. Unit lain melaksanakan serangan.

    Setiap bagian mungkin merasa telah bekerja sesuai prosedur.

    Namun, pada ujung seluruh rangkaian tersebut, sebuah keluarga kehilangan rumahnya. Anak-anak kehilangan orang tuanya. Orang tua kehilangan anak-anaknya.

    Tidak seorang pun dapat menghindari pertanyaan moral hanya dengan mengatakan bahwa dirinya sekadar menjalankan tugas.

    Film ini memperlihatkan bahwa kekerasan massal tidak selalu dijalankan oleh orang-orang yang secara terbuka menunjukkan kebencian.

    Ia juga dapat berlangsung melalui rutinitas pekerjaan, kepatuhan terhadap hierarki, dan keyakinan bahwa keputusan yang telah melalui prosedur birokrasi otomatis menjadi keputusan yang benar.

    Gaza yang Nyaris Tak Diberi Kesempatan Berbicara

    Pilihan artistik Yuval Abraham dan Rachel Szor cukup mengejutkan.

    Mereka tidak menjadikan gambar-gambar kehancuran Gaza sebagai pusat utama film.

    Tidak ada rangkaian panjang adegan ledakan yang dirancang untuk mengguncang emosi penonton.

    Sebaliknya, sebagian besar film berlangsung dalam kegelapan di atap-atap gedung Tel Aviv.

    Kita mendengar orang-orang yang terlibat dalam sistem peperangan itu berbicara. Kita menyaksikan mereka menjelaskan mekanisme pengawasan, memperagakan proses penentuan sasaran, dan menggambarkan keputusan yang dapat berakhir dengan kematian.

    Suara warga Palestina sendiri hampir tidak mendapatkan ruang langsung dalam film.

    Pilihan tersebut bisa dipersoalkan, sebab pengalaman korban merupakan bagian yang sangat penting dalam memahami tragedi Gaza.

    Namun, NAZA memang memilih fokus yang berbeda: mengungkap cara berpikir dan mekanisme dari dalam institusi yang melaksanakan serangan.

    Hasilnya adalah sebuah dokumenter yang tidak hanya mengandalkan emosi, melainkan juga kesaksian mengenai bagaimana kekerasan diproduksi dan dijalankan.

    Kontras antara Tel Aviv yang tetap hidup dan Gaza yang hancur menjadi salah satu kekuatan visualnya.

    Di satu tempat, lampu kota menyala dan masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

    Di tempat lain, keluarga-keluarga berjuang mempertahankan kehidupan di tengah kehancuran yang luar biasa.

    Keduanya dipisahkan oleh jarak geografis yang relatif dekat, tetapi oleh jurang pengalaman kemanusiaan yang begitu dalam.

    Ketika Dua Sineas Israel Membongkar Militer Negaranya Sendiri

    Yuval Abraham dan Rachel Szor bukan pendatang baru dalam mengangkat persoalan pendudukan dan kekerasan terhadap rakyat Palestina.

    Melalui No Other Land, keduanya bersama Basel Adra dan Hamdan Ballal mendokumentasikan perjuangan masyarakat Palestina mempertahankan tanah dan rumah mereka di Masafer Yatta, Tepi Barat.

    Film tersebut memenangkan Academy Award untuk kategori Film Dokumenter Terbaik pada 2025.

    Jika No Other Land membawa penonton menyaksikan kehidupan orang-orang Palestina yang menghadapi penggusuran dan penghancuran tempat tinggal, NAZA bergerak ke ruang yang berbeda.

    Film ini masuk ke dalam kesaksian orang-orang yang bekerja di balik sistem militer Israel.

    Pilihan itu membawa konsekuensi serius bagi kedua sutradara.

    Setelah NAZA diputar di Festival Film Internasional Venesia pada September 2026, mereka menghadapi kecaman keras dari sejumlah pejabat dan kelompok sayap kanan Israel.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengecam film tersebut, sedangkan ancaman terhadap para pembuatnya memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan mereka.

    Militer Israel secara tegas menolak tuduhan film, menyatakan bahwa prosedurnya membedakan kombatan dari warga sipil, dan menegaskan upaya untuk meminimalkan korban sipil.

    Di sisi lain, para pembuat film menyatakan bahwa temuan mereka telah diperiksa melalui proses investigasi yang lebih luas, termasuk kesaksian lebih dari 100 sumber rahasia.

    Kontroversi tersebut tidak menghalangi pengakuan internasional terhadap NAZA.

    Pada Festival Film Venesia 2026, film ini mendapatkan sambutan tepuk tangan berdiri selama sekitar 25 menit dan memenangkan Penghargaan Khusus Juri.

    Namun, nilai terpenting film ini barangkali bukanlah penghargaan yang diraihnya.

    Melainkan keberhasilannya membawa pertanyaan mengenai tanggung jawab atas kematian warga sipil Gaza ke hadapan publik dunia.

    Ketika Dunia Tidak Boleh Lagi Bersembunyi di Balik Angka

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here