More

    UMI Perkuat Peran Kampus Lewat Kolaborasi Kesehatan dan Pembinaan Karakter Mahasiswa

    Pembinaan Mahasiswa Baru Tidak Hanya Berlangsung di Ruang Kelas

    Upaya membangun peran perguruan tinggi juga dilakukan UMI melalui pembinaan mahasiswa baru. Salah satu bentuknya adalah Pekan Pesantren Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 yang dilaksanakan di Pesantren Unggulan Darul Mukhlisin, Padanglampe, Kabupaten Pangkep.

    Program tersebut berlangsung dalam tujuh gelombang pada 7–21 September 2026. Data resmi UMI mencatat ribuan mahasiswa baru mengikuti rangkaian pembinaan yang mencakup penguatan keislaman, kedisiplinan, kehidupan bersama, dan pengenalan nilai-nilai UMI.

    - Advertisement -

    Pada pelaksanaan tahun ini, UMI memberikan warna baru melalui kegiatan outbound. Aktivitas tersebut menggunakan pendekatan experiential learning dengan permainan dan simulasi kelompok yang dirancang untuk membangun komunikasi, kerja sama, serta kemampuan mahasiswa menghadapi persoalan bersama.

    Kegiatan tersebut membuat suasana pembinaan mahasiswa baru menjadi lebih beragam. Di satu sisi, mereka mengikuti kegiatan ibadah dan pembinaan keislaman. Di sisi lain, mahasiswa mendapatkan ruang untuk berinteraksi secara lebih cair melalui kegiatan luar ruangan.

    Bagi mahasiswa yang baru memasuki kehidupan perguruan tinggi, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenal teman dari berbagai latar belakang sekaligus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru.

    Penambahan outbound dalam Pekan Pesantren bukan sekadar menghadirkan permainan sebagai selingan. Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa.

    Dalam aktivitas kelompok, mahasiswa dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka berkomunikasi, membagi peran, mendengarkan anggota lain, serta mencari jalan keluar bersama. Kemampuan semacam itu juga dibutuhkan mahasiswa ketika memasuki kehidupan akademik, organisasi maupun dunia profesional.

    Pelaksanaan outbound pada Pekan Pesantren 2026 sebelumnya disebut UMI sebagai sarana untuk membangun chemistry dan karakter kepemimpinan mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran berbasis pengalaman yang melengkapi pembinaan di dalam pesantren.

    Dengan demikian, pembentukan mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Pengalaman hidup bersama dan menghadapi tantangan secara berkelompok juga menjadi bagian dari proses belajar.

    Ilmu, Ibadah, dan Karakter Berjalan Bersama

    Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menempatkan Pekan Pesantren sebagai bagian dari pembentukan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan integritas.

    “UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah. Karena itu, ilmu pengetahuan dan profesionalitas harus berjalan bersama nilai keislaman dan akhlak. Mahasiswa boleh menjadi generasi yang sangat maju dalam teknologi, tetapi adab, integritas, dan kepedulian kepada sesama tidak boleh tertinggal,” ujar Prof. Hambali.

    Menurutnya, kegiatan seperti outbound dapat memperluas cara pembinaan mahasiswa. Kemampuan memimpin, bekerja sama, berkomunikasi, mendengarkan dan mengambil peran dapat tumbuh melalui pengalaman yang dijalani bersama.

    “Anak-anakku boleh tertawa dan bergembira dalam outbound, tetapi ketika azan berkumandang kita kembali merendahkan hati di hadapan Allah SWT. Itulah keseimbangan yang ingin kita bangun: generasi yang cerdas pikirannya, kuat karakternya, luas pergaulannya, tetapi tetap kokoh nilai dan ibadahnya,” ujarnya.

    Konsep tersebut sejalan dengan arah pembinaan mahasiswa baru UMI yang menempatkan aspek keagamaan, karakter, integritas dan kepemimpinan sebagai bagian dari proses awal kehidupan mahasiswa.

    Setelah rangkaian Pekan Pesantren berakhir, mahasiswa kembali ke fakultas dan program studi masing-masing untuk menjalani aktivitas akademik. Nilai yang diperoleh selama pembinaan diharapkan tidak berhenti di lingkungan pesantren, tetapi diterapkan dalam kehidupan kampus.

    Kedisiplinan dalam menjalankan ibadah dapat berjalan berdampingan dengan kedisiplinan belajar. Pengalaman bekerja dalam kelompok dapat diterapkan dalam tugas akademik maupun organisasi. Sementara nilai kepedulian yang dibangun selama pembinaan dapat berkembang menjadi kepedulian terhadap masyarakat.

    Rektor UMI pun mengingatkan mahasiswa untuk tetap serius mengejar prestasi sekaligus menikmati proses menjadi mahasiswa.

    “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bangun prestasi, kuasai teknologi, jaga akhlak dan nama baik almamater. Tetapi jangan lupa menikmati prosesnya. Bangun persahabatan, belajar bekerja bersama, dan jadilah mahasiswa yang kehadirannya memberi manfaat bagi orang lain,” pesannya.

    Pada akhirnya, dua agenda UMI tersebut berlangsung pada ranah yang berbeda. Konsorsium TB menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian dari upaya menjawab persoalan kesehatan masyarakat, sementara Pekan Pesantren menempatkan mahasiswa sebagai fokus pembentukan karakter sejak awal masa kuliah.

    Keduanya bertemu pada satu gagasan: perguruan tinggi tidak berdiri sendiri. Ilmu yang dikembangkan di kampus perlu memiliki hubungan dengan kebutuhan masyarakat, sementara pendidikan mahasiswa perlu membentuk kemampuan dan karakter yang dapat mereka bawa ketika berhadapan dengan persoalan nyata.

    Bagi UMI, peran tersebut dijalankan melalui kerja sama kelembagaan, pengembangan keilmuan, pengabdian kepada masyarakat, serta pembinaan mahasiswa. Dengan cara itu, kehidupan kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mendorong lahirnya individu dan institusi yang dapat memberikan manfaat di lingkungan sekitarnya.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here