Tiga tahun lalu, Phillip Kemp membeli satu set lego untuk anak perempuannya yang masih berusia lima tahun.
Ia tak pernah menyangka kalau hadiahnya tersebut malah membuatnya terobsesi, hingga memenuhi satu ruangan penuh di rumahnya.
Tapi bagi Kemp, koleksinya ini bukan untuk dinikmati sendirian.
Ia telah menampilkan sejumlah koleksinya di beberapa tempat untuk menggalang dana bagi para penderita Kanker di negara bagian Queensland.
“Kita terus mengatakan membeli Lego ini untuk anak-anak kita, tetapi kalau sudah memiliki Lego sebanyak saya, rasanya jadi sulit mengatakan kalau ini benar-benar untuk anak saya,” ujar Kemp.
Jika dihitung-hitung, koleksinya ini sudah mencapai puluhan ribu, yang artinya juga bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Balok-balok Lego ini diakuinya telah membuatnya menjadi kreatif.
“Ada rasa kesenangan tersendiri saat menyusunnya, dibandingkan dengan memainkannya sendiri,” ujar Kemp. “Karena kita bisa berkreasi”
“Ada rasa senang juga saat kita sudah melewati masa-masa merasa malu karena masih bermain Lego. Karena menjadi pertanda kalau kita kreatif dan bisa mengekspresikan diri,” tambahnya.
Kemp sendiri pertama kali mengenal Lego saat masih kanak-kanak, saat ibunya sangat kerasa untuk membatasinya menonton televisi.
Menurutnya bermain Lego atau kembali menjadi anak-anak bukanlah hal yang salah, kalau masih dalam tingkat yang wajar.
“Ada sesuatu yang hilang saat kita berpikir sudah dewasa dan tidak bisa lagi menjadi seperti anak-anak,” ujar Kemp.
“Justru menjadi menyedihkan kalau mengatakan kita tidak bisa lagi menjadi anak-anak karena memiliki tanggung jawab sebagai orang dewasa.”[]







