More

    Edrick Putra Pemeran Soe Hok Gie di Panggung Merdeka Melbourne

    Soe Hok Gie (Edrick Putra) ketika menjadi mahasiswa UI di tahun 1960-an. (Photo: PPIA Victoria)
    Soe Hok Gie (Edrick Putra) ketika menjadi mahasiswa UI di tahun 1960-an. (Photo: PPIA Victoria)

    Panggung Merdeka yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) Victoria akan dilangsungkan seharian, Sabtu (16/8/2014). Pertunjukan utamanya adalah pentas teatrikal Soe Hok Gie – tokoh mahasiswa Indonesia tahun 1960-an yang mati muda.

     Pemeran Soe Hok Gie dalam teater ini adalah Edrick Putra, mahasiswa bisnis keuangan pada Universitas Swinburne Melbourne. Untuk mengetahui persiapan Edrick dan apa saja yang ditampilkan dalam cerita Soe Hok Gie, berikut percakapan Andrew Nugraha Patty dari Universitas Melbourne.

    Apa yang membuatmu tertarik menerima peran Gie?

    - Advertisement -

    Soe Hok Gie adalah mahasiswa keturunan Tionghoa, namun sifat nasionalismenya tidak kalah kuat dibandingkan teman-temannya. Dia adalah orang Indonesia yang berani, dan itulah yang menginsipirasi saya untuk bermain sebagai dia.

    agaimana kamu mengenal sosok Gie sebelum dan selama kamu memerankan peran tersebut?

    Sebelum saya bermain, saya pikir Gie adalah orang yg tidak segan menyuarakan pendapat dan suka menyalurkan semangat demokrasi demi kepentingan bersama. Satu hal yang sangat saya suka juga adalah sifatnya yang cinta alam. Saya sendiri juga kebetulan menyukai mendaki gunung.

    Selama saya berperan sebagai Gie, saya tambah yakin kalau dia adalah sosok yang berani. Dia juga bisa memimpin apabila sedang ramai-ramai mengeluarkan pendapat dengan rekan-rekannya. Lucunya, kalau dia bersama teman-teman perempuannya, dia langsung menjadi canggung!

    Apakah Anda membutuhkan banyak waktu untuk menghayati peran Gie?

    Butuh sekitar seminggu untuk mendalami peran Gie. Itu juga dibantu oleh sutradara dan person-in-charge Panggung Merdeka. Saya mesti berjalan rapat dengan lengan berhimpit, persis seperti Gie.

    Pernahkah bermain di pentas teater sebelumnya, terlebih sebagai protagonis?  Bagaimana kesannya?

    Tidak pernah sebelumya bermain dengan skala yang besar. Panggung Merdeka ini membutuhkan komitmen dan tanggung jawab. Contohnya dari yang mendasar, yaitu menghapal naskah.

    Bagaimana lawan main Anda?

    Saya beruntung sekali bisa beradu acting dengan lawan main yang mahir dan profesional. Jelas dalam teater dibutuhkan kerjasama tim yang solid.

    Apa kegiatan yang paling berkesan selama dari awal sampai akhir persiapan?

    Pernah dalam pelatihan di Mt. Dandenong (sekitar 47 km dari Melbourne). Pemain dan panitia harus berjalan 15 menit, tiba-tiba banyak lintah menempel dan seluruh panitia langsung sontak lari bareng-bareng. Pecinta alam, sih, tapi kalau ada lintah, itu cerita lain.

    Bagaimana penggambaran pembedaan antara pribumi dan keturunan Tionghoa di pentas ini? Apakah ada arti khusus?

    Itu hanya untuk proses casting saja, seperti peran ‘wajah pribumi’ memang dicari teman yang berwajah sedemikian rupa karena teater ini mengangkat kisah nyata. Setelah casting selesai, kami langsung saling support satu sama lain sampai sekarang.

    Apa yang kamu lakukan di kala sedang tidak latihan?

    Selain kesibukan di Panggung Merdeka, saya juga ikut dalam panitia Pandawa, yaitu acara stand up comedy dari PPIA Swinburne dan Deakin, sebagai anggota sponsorship. Cukup sibuk, memang, tapi belajar untuk bisa mengatur.

    Apa adegan yang paling kamu suka?

    Adegan berlakon bersama peran perempuan, Sita dan Andini. Adegan sebagai aktivis sangat saya sukai, tetapi sebagai Gie yang canggung, adegan itu menjadi tidak terlalu gampang dan menjadi tantangan sendiri.

    Apa arti tema Panggung Merdeka tahun ini (Lensa Kecil Seorang Pejuang)? Apa yang ingin disampaikan teater ini?

    Kennedy pernah berkata bahwa jangan bertanya apa yang negara bisa berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah masing-masing orang berikan kepada negara. Saya pikir, arti tema Lensa Kecil Seorang Pejuang sendiri adalah sudut pandang dari Soe Hok Gie melihat hidupnya sebagai perjuangan. Saya ingin kita sebagai mahasiswa dapat bersatu, bergerak bersama hati membangun Indonesia, lebih-lebih bagi mahasiswa yang hampir lulus dan kembali ke Indonesia.

    Anggap saja 15 menit lagi pentas akan dimulai. Apa yang kamu pikirkan?

    Saya tidak mau pikir apa-apa. Harus konsentrasi dan mulai menjadi sosok Gie.

    Bagaimana dengan 15 menit setelah pentas selesai?

    Makan sekenyang-kenyangnya, mau bertemu dengan teman-teman juga. Yang jelas saya bakal kangen dengan masa-masa persiapan sejak bulan Juni.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here