More

    Bersama “Kabayan” Ajari Anak-Anak Cintai Lingkungan

    Buku Dongen Kabayan
    Buku Dongen Kabayan

    Pembekalan nilai-nilai baik terhadap anak haruslah dimulai sejak usia dini. Seperti mengajari anak membuang sampah pada tempatnya merupakan salah satu contoh sederhana yang dapat mengubah kondisi lingkungan di masa depan.

    Keinginan untuk membekali anak-anak usia dini untuk mencintai lingkungan tersebut datang dari Made Indriani Kenanga Ayu (Made), alumni Prodi Hubungan Internasional (HI) Unpar. Ia menggagas  proyek “Ti Leutik Tinu Leutik” atau dalam Bahasa Indonesia berarti “Sejak Usia Dini, Dari Hal Kecil”.

    Gagasan ini merupakan Personal leadership project-nya dalam mengikuti program Young Leaders for Indonesia (YLI) dibawah naungan McKinsey and Company. Proyek ini lahir dari kegelisahan dan kekesalan ketika melihat banyak sampah plastik di jalanan. Made meyakini kegagalan pendidikan menjadi faktor utama yang menyebabkan lingkungan kotor penuh dengan sampah

    - Advertisement -

    Alumni angkatan 2012 ini  kemudian membuat sebuah buku dongen dengan tokoh Kabayan agar lebih dekat dengan masyarakat Sunda. Hal ini untuk mempermudah menjelaskan kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) mengenai pentingnya mendaur ulang sampah.

    Buku dongeng ini diberi judul “Kabayan dan Raja Air Cigending” Adapun untuk gambarnya dibantu oleh seorang mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung, serta enam mahasiswa  HI Unpar yakni Alya Nurshabrina, Halena, Stephanie Ilsanker, Annisa Resmana, Diatma, dan Gin Gin Ginanjar.

    Melalui proyek ini, Made ingin memberikan pesan bahwa anak-anak perlu mengetahui betapa kritisnya kondisi lingkungan saat ini. Ia percaya, jika anak-anak mendapatkan edukasi dengan baik, maka lingkungan kita tidak akan menjadi tempat yang mengerikan untuk dikunjungi di masa yang akan datang.

    “Saya berharap bahwa anak-anak yang membaca buku karyanya dapat menjadi agen perubahan,” katanya.

    Bagi Made isu lingkungan bukan lagi menjadi sebuah isu yang harus ditunda. Kerusakan lingkungan tidak dapat terus dibiarkan tanpa tindakan nyata untuk memperbaikinya. Ia menganalogikan bagaimana hewan tidak pernah merusak ‘rumahnya’ sendiri, namun manusia justru seakan tidak peduli dengan merusak rumahnya tempat mereka hidup berdampingan dengan makhluk hidup lainnya.

    Buku dongeng “Kabayan dan Raja Air Cigending” ini menadapat sambutan baik dari masyarakat. Salah satunya pernah meraih penghargaan The Most Favorite Award dari YLI. Selain itu juga pernah menjadi salah satu hadiah dalam ajang penobatan Mojang-Jajaka Alit Bandung 2016.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here