
SEMARANG, KabarKampus – Banyak sekali peranan yang dapat diambil oleh perempuan di Indonesia. Diantaranya adalah memberikan perhatian di bidang pendidikan, terutama untuk masyarakat pesisir.
“Hal itu karena fasilitas pendidikan di pelesok-pelosok masih minim, perlu kita bantu,” ujar Dhini Sastroatmodjo dalam talkshow “Obrolan Bahari” dengan tema Peranan Perempuan dalam Pembangunan Bangsa di ruang studio mini Pusat Informasi Publik (PIP) Kota Semarang, Jumat, (07/12/2018).
Dalam talkshow yang digelar oleh Koalisi Nelayan Tradisional Indonesia ini, Dhini bercerita, ia bersama komunitas yang dibangunnya bersama lima kawanya yakni Damar Nusantara, melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok negeri terutama di Indonesia Timur. Di sana ia melihat bahwa akses pendidikan masih kurang, baik sarana prasarana ataupun jarak yang cukup jauh.
“Akses anak-anak nelayan, baik SD, SMP, SMA di sana cukup jauh untuk bersekolah,” terang Dhini menceritakan perjalananya selama di Raja Empat
Oleh karena itu, menurut aktivis perempuan yang fokus pada bidang maritim ini menjelaskan, ada tiga point yang secara garis besar bisa dilakukan oleh perempuan dalam upaya berperan bagi pembangunan bangsa yakni, kontributif, partisipatif dan aspiratif. Peran kontributif sebagai perempauan adalah dapat bermanfaat terhadap sesama, peran partisipatif perempauan adalah dapat memaksimalkan diri untuk melakukan kegaiatan positif seperti ikut memastikan keberjalanan kebijakan publik agar tepat sasaran.
“Sedang peranan aspiratif adalah ikut serta dalam memperjuangkan permasalahan yang ada, seperti ikut dalam menyuarakan perdamian dunia,” jelas Dhini yang sangat terinspirasi oleh Meghan Maskle
Sambung Dhini, dalam memulai kegiatan pengabdian atau sosial tidak melulu bicara soal materi, namun lebih mengedepankan niat. Komitmen, visi misi sangat penting ketika kita memulai untuk mengabdikan diri.
“Bagi saya kegiatan sosial adalah bagian dari hidup, penyeimbang hidup dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Jadilah versi terbaik dari diri kalian, pilih pengabdian yang sesuai dengan ke ahlian, nantinya versi tersebut bisa menghantarkan kepada kebahagian,” terang Dhini yang kesehariannya bekerja sebagai Staff DPR RI.
Esha Strnadiva, Staf Muda bidang pemberdayaan perempuan KNTI Kota Semarang mengungkapkan, bahwa kegiatan ini digelar karena masih adanya diskriminasi terhadap perempuan di kalangan masyarakat pesisir. Perempuan belum sepenuhnya bisa mengembangkan potensi mereka dalam bidang maritim dan khususnya perempuan daerah pesisir.
“Mereka yang bekerja menjadi nelayan juga mengalami kesulitan, oleh karena itu diadakannya Obrolan Bahari ini agar dapat menggugah dan mendorong mereka untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan kreatif,” terang Esha yang merupakan mahasiswa Undip.
Lanjut Esha, Obrolan bahari sebagai media untuk tukar pikiran, agar kita lebih tahu mengenai bagaimana kondisi perempuan di daerah pesisir. Selanjutnya mereka akan mengerti kondisi mereka, dan harapannya dapat membantu untuk memajukan kesejahteraan mereka.[]






