
JAKARTA, KabarKampus – Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji penerapan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau hybrid bagi mahasiswa perguruan tinggi, khususnya mulai semester lima ke atas. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mendorong efisiensi sekaligus mempercepat transformasi digital di lingkungan kampus.
Menurut Brian, perguruan tinggi didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam berbagai layanan akademik dan administrasi. Digitalisasi dinilai mampu menyederhanakan mobilitas mahasiswa sekaligus meningkatkan efisiensi sistem pendidikan.
“Sehingga untuk pendaftaran, untuk aplikasi, untuk ngecek transkrip dan lain sebagainya, mobilitas mahasiswa tuh bisa lebih sederhana karena semuanya digital. Itu yang pertama, sehingga jauh lebih efisien. Kita juga meminta tugas-tugas begitu itu sebisa mungkin digital, sehingga misalnya tugas akhir yang dulu harus cetak lima, itu bisa dikurangi,” kata Brian seperti dikutip dari RCTI Plus.
Selain digitalisasi layanan, pemerintah juga tengah mengkaji pengaturan ulang pola kerja dosen dan tenaga kependidikan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan sistem kerja fleksibel, termasuk kemungkinan bekerja dari rumah satu hari dalam sepekan.
“Kemudian yang lainnya juga adalah pengaturan mata kuliah. Kita juga mempedomani arahan bahwa bagaimana satu hari tendik (tenaga kependidikan), dosen, itu tidak ke kampus gitu ya, bekerja dari rumah. Kita ingin mengatur, kita tentu berikan kepada kampus-kampus bagaimana dosen-dosen itu ketika bekerja tidak tersebar di lima hari, tetapi barangkali kan bisa empat hari, satu hari bisa bekerja dari rumah. Itu dengan mengatur perkuliahan sehingga lebih terkonsentrasi,” ucapnya.
Penerapan PJJ tidak akan berlaku untuk seluruh jenjang mahasiswa. Pemerintah menegaskan bahwa mahasiswa tingkat awal, khususnya semester satu dan dua, tetap diwajibkan menjalani perkuliahan tatap muka guna membangun atmosfer akademik yang kuat.
“Jadi siswa setiap prodi itu mencermati lagi mana mata kuliah-mata kuliah yang memungkinkan untuk diselenggarakan secara hybrid atau kuliah PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) gitu ya. Tetapi kita meminta jangan yang tingkat dasar, tingkat 1, tingkat 2, supaya atmosfer akademik itu terbangun dulu. Tapi sekali lagi, itu pun bukan mata kuliah-mata kuliah yang perlu praktikum, perlu studio, dan sebagainya,” tuturnya.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






