More

    Polusi Udara Sumbang 50 Persen Angka Pesakitan di Indonesia

    Ilustrasi. Dok. UI

    DEPOK, KabarKampus – Polusi udara menjadi penyumbang sebanyak 50 persen angka pesakitan di Indonesia. Bahkan jumlah penyakit yang ditimbulkannya diprediksi lebih tinggi dan lebih parah.

    Hal ini seperti yang diungkapkan Prof. Dr. R. Budi Haryanto, SKM., M.Kes, M.Sc., Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM UI), di Balai Sidang, UI, Depok, Sabtu, (23/03/2019). Ia menyampaikannya dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar yang berjudul “Perubahan Iklim dan Polusi Udara di Indonesia: Dampak Kesehatan dan Strategi Pengendaliannya”.

    “Hal ini karena sumber pencemaran udara, permintaan energi, diproyeksikan akan meningkat tajam hingga tahun 2050,” kata Prof. Budi.

    - Advertisement -

    Menurutnya, salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi polusi udara tersebut adalah sektor transportasi yang jumlahnya mencapai 80 persen. Kemudian diikuti oleh emisi dan industri, kebakaran hutan, dan kegiatan rumah tangga.

    Polusi itu terjadi, lanjut Prof. Budi, terjadi melalui proses alamiah dan hasil kegiatan manusia saat teremisikan bersama dengan gas rumah kaca maupun sebagai akibat dinamika perubahan iklim. Namun emisi polutan udara sarana transportasi lebih dominan dibandingkan dari sumber industri, kebakaran lahan dan hutan, maupun dari sumber kegiatan di perumahan atau rumah tangga.

    Solusi Pencemaran Udara

    Untuk itu, menurut Prof. Budi salah satu upaya untuk mencegah pencemaran tersebut, salah satunya adalah memperbaiki kualitas bahan bakar. Kemudian juga dan meningkatkan teknologi mesin kendaraan bermotor, prasarana infrastruktur, dan manajemen transportasi.

    “Semakin cepat penerapan kebijakan penggunaan bahan bakar kualitas Euro 4 semakin cepat pula terjadinya penurunan konsentrasi polusi udara,” ungkapnya.

    Saat ini,  kata Prof Budi, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menanggulangi perubahan iklim. Namun keberhasilan dari berbagai aksi yang dilakukan belum menunjukkan hasil signifikan.

    “Sementara itu, perhatian terhadap polusi udara, yang langsung terhirup oleh semua orang, belum mendapatkan perhatian yang memadai,” tambahnya.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here