
BANDUNG, KabarKampus – Berbagai komunitas di Kota Bandung merefleksikan hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei lewat acara bertajuk “Menjadi Indonesia (di) Nusantara”. Kegiatan ini bakal digelar di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Senin, (20/05/2019).
Sejumlah acara yang telah disiapkan diantaranya berbagi takjil bersama warga dan ngabuburit melukis bersama para perupa Bandung seperti Bang Zoel, Deden Sambas, Dodo Abdulah, Isa Perkasa, Iwan Ismail, Rahmat Jabaril, Ratman Hasan, Tiarma Sirait, Tisna Sanjaya, Yoyo Hartanto yang dimulai pukul 16.00 WIB. Kemudian acara dilanjutkan dengan buka bersama, sholat magrib, isya, dan tarawih berjama’ah, serta dilanjutkan dengan doa untuk bangsa.
Sekitar pukul 20.00 WIB, dilanjutkan dengan refleksi kebangsaan lewat Monolog Soekarno oleh Wawan Sofwan dan ekspresi syukur oleh Ahda Imran, Harry Pochang, Imam Suryantoko, Keni Soeriaatmadja, Syarif Maulana. Acara ditutup dengan refleksi budaya oleh Mudji Sutrisno SJ dan Taufik Rahzen.
Furqan AMC, ketua panitia mengatakan, 111 tahun lalu semangat nasionalisme tumbuh bersemi di dada para pelopor kebangkitan Nasional. Semangat itu berkembang biak dalam diskursus di berbagai organisasi yang lahir saat itu, ada Boedi Oetomo, Serikat Dagang Islam, Indische Partij dan berbagai organisasi lainnya.
“Kelahiran berbagai organisasi tersebut telah membuka jalan untuk menegasikan kolonisalisme di nusantara,” ungkap Furqan, Senin, (20/05/2019)
Menurut aktivis 98 ini, berbeda dengan perlawanan terhadap penjajah di Nusanatara ratusan tahun sebelumnya yang masih bersifat lokal dan parsial. Kebangkitan Nasional lahir dengan kesadaran berorganisasi yang tinggi. Ia lahir sebagai antitesa terhadap kolonialisme yang sangat terorganisir.
“Tak lama, hanya 37 tahun setelah 1908, langkah-langkah terorganisir tersebut telah melahirkan sintesa kemerdekaan bernama Indonesia. Pada tahun 1945, kesadaran bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, menemukan
bentuk nyatanya sebagai sebuah negara modern di Nusantara,” terangnya.
Kini setelah 111 tahun berlalu, lanjut Furqan, kebangkitan nasional tersebut haruslah menjadi obor bagi generasi
sekarang dan yang akan datang. Generasi 1908, 1928 dan 1945 telah menunaikan tugas sejarahnya
sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
“Tugas kitalah selanjutnya untuk merawat dan menjaga warisan agung bernama Indonesia,” ungkap Furqan.
Selain itu lanjut Furqan, Pemilu seharusnya menjadi salah satu jalan terbaik untuk merawat Indonesia. Tidak seharusnya Pemilu memecah belah, membuat peradaban kita mundur ke belakang.
“Justru sebaliknya dengan Pemilu, etape-etape kemajuan bangsa kita hela. Benih persatuan yang telah disemai generasi sebelumnya, kita jaga, kita rawat, kita pupuk, kita sirami, dengan penuh cinta dan karya nyata,” tutup Furqan.
Komunitas yang terlibat dalam kegiatan ini diantaranya Masyarakat Indonesia Maju, Forum Sahabat, Rumah Nusantara, Jakatarub, The Rahmatan lil Alamiin Center, serta Komunitas Gedung Indonesia Menggugat. Lewat kegiatan tersebut mereka mengajak untuk hening sejenak memaknai Kebangkitan Nasional sebagai syukur kebhinekaan, memaknai hidup berbangsa dalam syukur persaudaraan.






