
BANDUNG, KabarKampus – Hujan deras dalam durasi lama berpotensi menyebabkan gerakan tanah dan memicu bencana longsor. Daerah longsor sendiri tersebar luas di Indonesia, dari barat Aceh sampai Papua. Bahkan bulan ini Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi memprediksi gerakan tanah meningkat.
“Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2019, potensinya terus meningkat disebagian wilayah Indonesia,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Kasbani, Jumat (20/11/2019).
Daerah-daerah yang termasuk potensi tinggi gerakan tanah ialah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat dan sebagian Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur bagian tengah, wilaya Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Utara bagian barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi tenggara bagian utara, Bali, Sumbawa, Timor Barat, Maluku dan Papua.
Kata Kasbani, ciri khas daerah yang rentan mengalami gerakan tanah di musim hujan ini ialah memiliki kontur tanah perbukitan atau pegunungan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
PVMBG mencatat, gerakan tanah terakhir terjadi di Jawa Barat, yakni Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Tasikmalaya. Gerakan tanah di provinsi ini menyebabkan tiga rumah terancam rusak dan akses jalan terhambat.
Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, gerakan tanah juga menghambat akses jalan; di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, empat rumah ambruk; di Kabupaten Gayo Luwes, Aceh, akses jalan terhambat.
“Penyebab longsor diperkirakan karena kelerengan yang terjal , drainase yang kurang baik , curah hujan tinggi menjadi pemicu terjadinya longsor,” terang Kasbani.
Menghadapi ancaman gerakan tanah di beberapa wilayah di Indonesia, PVMBG mengeluarkan rekomendasi, di antaranya segera membersihkan material longsoran dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan jiwa, memasang rambu-rambu peringatan rawan gerakan tanah, memperbaiki tanggul dengan memperhatikan aspek geologi teknik.
Selain itu, pengguna jalan dan masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama.
PVMBG juga meminta segera dilakukan perbaikan saluran drainase di sekitar sungai, melakukan pemotongan lereng jalan agar tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
Masyarakat setempat juga dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/ Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.
Gerakan Tanah di Jalur Natal Tahun Baru
PVMBG juga telah menerbitkan peta peta prakiraan potensi gerakan tanah di seluruh Indonesia. Peta ini sebagai sebagai peringatan dini gerakan tanah. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Peta tersebut juga berisi informasi potensi gerakan tanah pada jalur lalu lintas Natal dan Tahun Baru. Di dalam peta disebutkan jalur-jalur rawan longsor yang ditandai warna pink, jalur rawan menengah warna kuning dan jalur aman warna hijau. []






