More

    Kolaborasi Kampus Perkuat Program Makan Bergizi Gratis

    Rapat Persiapan BGN Goes to Campus (11/3). (Foto: Jawapos)

    JAKARTA, KabarKampus – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dikembangkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui berbagai pendekatan strategis, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi. Melalui inisiatif BGN Bersatu Kampus dan BGN Goes to Campus, lembaga tersebut berupaya memperkuat implementasi program gizi nasional dengan dukungan kajian ilmiah dan partisipasi dunia akademik.

    Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan literasi gizi masyarakat, tetapi juga menjadikan kampus sebagai ruang pengembangan kebijakan publik berbasis riset dan data. Dengan melibatkan akademisi, peneliti, serta mahasiswa, program MBG diharapkan mampu terus berkembang melalui evaluasi ilmiah yang komprehensif.

    Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan langkah penting untuk memastikan program berjalan secara efektif dan berbasis penelitian. “Melalui kolaborasi ini, berbagai permasalahan yang muncul dalam program MBG akan dibahas bersama. para pakar, akademisi, dan peneliti,” kata PLT Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, Kamis (12/3) seperti dikutip dari Jawa Pos.

    - Advertisement -

    Dalam implementasinya, BGN mengembangkan empat klaster dampak strategis yang menjadi fokus kolaborasi bersama perguruan tinggi.””Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi rekomendasi penting dalam penyempurnaan tata kelola program, sehingga kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data dan penelitian ilmiah Lebih jauh lagi, program ini mengusung pendekatan pentahelix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, media, akademisi, dan masyarakat,” jelas Gunalan.

    Klaster pertama berkaitan dengan gizi dan kesehatan, yang menitikberatkan pada peningkatan status gizi anak, pencegahan stunting, peningkatan energi siswa, serta pembiasaan pola makan sehat. ” Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program MBG,” ujar Gunalan.

    Mahasiswa dapat berperan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), edukasi gizi di sekolah, hingga pengukuran indikator kesehatan seperti berat dan tinggi badan siswa. Klaster kedua adalah pendidikan dan perilaku belajar. Program MBG diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi belajar, kehadiran siswa di sekolah, serta prestasi akademik. 

    Selain itu, program ini juga mendorong kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui kegiatan seperti program sekolah sehat, edukasi pola makan sehat, serta pendampingan kantin sehat. Klaster ketiga berfokus pada sosial dan ketahanan keluarga. Program ini bertujuan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, memperkuat ketahanan pangan keluarga, serta meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. 

    Dalam konteks ini, mahasiswa dan akademisi dapat melakukan survei pengeluaran pangan rumah tangga maupun edukasi mengenai pentingnya gizi bagi anak. Adapun klaster keempat berkaitan dengan sirkular ekonomi lokal yang mendorong penguatan UMKM pangan, peningkatan permintaan bahan pangan lokal, serta pengembangan rantai pasok yang mendukung penyediaan makanan bergizi. 

    Perguruan tinggi dapat berperan melalui pemetaan rantai pasok pangan lokal serta pendampingan pelaku usaha yang terlibat dalam penyediaan bahan makanan program MBG. Selain kegiatan pengabdian masyarakat, kerja sama ini juga membuka peluang penelitian akademik seperti penyusunan skripsi, tesis, disertasi, hingga publikasi jurnal ilmiah yang berkaitan dengan implementasi program gizi nasional.

    Sejumlah perguruan tinggi telah mulai terlibat dalam kajian tersebut. Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, mengajukan penelitian terkait penggunaan istilah Ultra Processed Food (UPF) yang selama ini menjadi perdebatan dalam kajian gizi. Dari diskusi bersama pakar teknologi pertanian, muncul pandangan bahwa istilah tersebut berasal dari konteks luar negeri dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas pangan Indonesia. 

    Oleh karena itu, muncul usulan penggunaan istilah processed food (PF) yang dinilai lebih relevan dengan karakter pangan nasional. Sementara itu, Universitas Indonesia (UI) mengajukan penelitian mengenai dampak sosial program MBG, termasuk potensi pengaruhnya terhadap kondisi ekonomi masyarakat serta kemungkinan kontribusinya dalam menekan tingkat kemiskinan.

    Evaluasi Ribuan Unit Layanan Gizi

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here