Oleh: Akhmad Alfan

MALANG, KabarKampus – Lakuna memulai langkah yang lebih serius di dunia musik melalui perilisan maxi single “Mudra”. Aktif sejak 2021, band Malang ini digawangi Yoko (vokal), Bagus dan Tian (gitar), Kelfin (keyboard), Aziz (bass), serta Eta (drum). Lakuna perlahan menemukan arah musikalnya melalui perpaduan musik pop alternatif dan folk yang dibalut distorsi halus serta melodi lembut namun emosional.
Maxi single “Mudra” memuat dua komposisi yang menjadi pijakan awal perjalanan musikal Lakuna sekaligus membuka ruang eksplorasi antara keintiman lirik dan keluasan lanskap bunyi untuk karya-karya Lakuna ke depan di skena musik alternatif Indonesia.
Sebelumnya, Lakuna memperkenalkan diri melalui single “Buai Raga”, yang menandai kecenderungan band Malang ini dalam menghadirkan lirik puitis yang dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Pencarian musikal Lakuna tersebut kemudian berlanjut dalam Mudra, lagu yang lahir dari perenungan tentang manusia dan keberadaannya—tentang momen ketika seseorang berhenti dari riuhnya dunia untuk bertanya dari mana ia datang, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Tema dalam lagu Mudra juga berangkat dari penelitian yang dilakukan Yoko untuk penulisan naskah drama mengenai konsep “kehancuran” dalam beberapa agama dan kepercayaan, yang kemudian menggiring proses kreatif Lakuna untuk menggali makna melalui ayat-ayat Tuhan seperti ayat dalam Al-Qur’an “Kun Fayakun”, Matius 19 ayat 14, hingga tembang macapat Asmarandhana Aja Turu Sore Kaki yang dihadirkan sebagai unsur penguat lirik sekaligus memperkuat imersi dalam keseluruhan narasi lagu Mudra.
“Awalnya saya meneliti berbagai definisi tentang kehancuran dalam agama dan kepercayaan yang berbeda untuk kebutuhan naskah drama. Dari situ saya justru menemukan perspektif yang sangat luas tentang bagaimana manusia memandang akhir kehidupan. Di tengah proses itu pula lagu Mudra mulai terbentuk,” ungkap Yoko, vokalis Lakuna.
Kata Mudra berasal dari bahasa Sanskerta yang dimaknai sebagai keadaan yang bersih, murni, dan kembali pada asal, sebuah gambaran ketika segala yang pernah ada perlahan luruh menuju kesunyian semesta. Maxi single Mudra dari Lakuna ini memuat dua komposisi yaitu Manungsa ing Pandunga sebagai intro dan Mudra sebagai lagu utama, sekaligus menjadi gerbang awal perjalanan musikal Lakuna menuju rilisan berikutnya hingga album penuh.
Manungsa ing Pandunga merujuk pada tembang macapat Asmarandhana dan menggunakan bahasa Jawa sebagai identitas sosial Lakuna untuk menggambarkan bagaimana manusia mencintai hidup dalam tatanan yang teratur, sembari mengingatkan bahwa setiap napas kehidupan merupakan anugerah yang dititipkan oleh semesta.
Dari doa manusia itulah perjalanan musikal Lakuna berlanjut menuju Mudra, sebuah lagu yang memandang kehancuran bukan sebagai tragedi, melainkan bagian dari siklus kosmis ketika semesta meredup, dimensi kembali menyatu, dan dari kehampaan itulah kemungkinan baru selalu bermula.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






