
BOGOR, KabarKampus – Perguruan tinggi mulai memainkan peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan nasional, mulai dari pemenuhan gizi hingga literasi informasi. Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi salah satu kampus yang aktif mengambil bagian melalui pendekatan berbasis riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Bogor. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menjadi pusat pengembangan model layanan berbasis ilmu pengetahuan.
Rektor IPB, Alim Setiawan Slamet, menjelaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kesiapan di lapangan. “Kalau di IPB, Insyaallah mungkin Mei, kesatu. Dan mungkin nanti berikutnya di Juni,” kata Alim, Kamis (7/5), seperti dikutip dari Lampung Online.
Ia menambahkan bahwa keberadaan SPPG tidak hanya difungsikan sebagai penyedia makanan bergizi bagi masyarakat sekitar, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem akademik. Kampus akan mengintegrasikan kegiatan ini dengan riset, pembelajaran mahasiswa, hingga penguatan rantai pasok yang melibatkan petani lokal.
Melalui pendekatan tersebut, SPPG diharapkan menjadi living laboratory yang mengkaji berbagai aspek, mulai dari efisiensi operasional dapur, keamanan pangan, hingga pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menilai keterlibatan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.
“Perguruan tinggi memiliki teknologi, SDM, dan inovasi yang sangat bermanfaat untuk pengembangan program Makan Bergizi, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis,” katanya.
Sebelumnya, implementasi serupa juga telah dimulai melalui peresmian SPPG di Universitas Hasanuddin oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Ia menekankan bahwa fasilitas ini tidak hanya mendukung distribusi gizi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran praktis.
“SPPG yang dibentuk di kampus tidak hanya mendukung program, tetapi juga dapat menjadi teaching factory. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat praktik mahasiswa, penelitian, serta pengembangan lebih lanjut program MBG di masyarakat,” jelasnya.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






