
Budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA) telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka Batan Indah di Kelurahan Kademangan, Tangerang Selatan. Selain membudidayakan jamur dan tanaman TOGA, kelompok ini juga mengolah bunga telang menjadi minuman teh. Namun, penyiraman tanaman dan perawatan kumbung atau tempat budidaya jamur masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, terutama karena mayoritas anggota KWT berusia 58–70 tahun.
Tantangan tersebut mendorong Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan pendekatan smart farming. Melalui teknologi berbasis sensor, mahasiswa membantu KWT meningkatkan efisiensi proses budidaya.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui proposal berjudul “Implementasi Teknologi Smart Farming melalui Pemanfaatan Air Limbah Daun untuk Meningkatkan Efisiensi Tenaga Kerja Kelompok Wanita Tani Kelurahan Kademangan”. Proposal ini berhasil memperoleh hibah sebesar Rp22,5 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI). Untuk mendukung pelaksanaannya, UPH turut memberikan tambahan pendanaan sebesar Rp6,5 juta.
PPK Ormawa sendiri merupakan program yang mendukung organisasi kemahasiswaan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Pada 2026, sebanyak 226 judul subproposal dari 105 perguruan tinggi menerima pendanaan, termasuk proposal HMPS S1 Farmasi UPH.
Budidaya Masih Mengandalkan Tenaga Manual
Program ini berawal dari hubungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UPH dengan KWT Cempaka Batan Indah sebagai salah satu kelompok binaan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Berdasarkan survei pada 11 dan 14 Maret 2026, tim menemukan bahwa proses budidaya masih dilakukan secara manual. Dengan sekitar 26 anggota yang mayoritas berusia 58–70 tahun, pekerjaan menyiram tanaman TOGA dan merawat kumbung jamur cukup berat sehingga KWT perlu menyewa tenaga tambahan yang turut menambah biaya operasional.
“Di area budidaya jamur atau kumbung, suhu dan kelembapannya perlu dijaga agar jamur dapat tumbuh dengan baik. Selama ini, penyiramannya juga masih dilakukan secara manual, begitu juga di area TOGA. Selain itu, banyak daun dari pepohonan di sekitar KWT yang tidak dimanfaatkan dan akhirnya menjadi limbah,” jelas Djona Nababan, mahasiswa S1 Farmasi UPH angkatan 2024 sekaligus Ketua Tim PPK Ormawa HMPS S1 Farmasi UPH.
Smart Farming Hadirkan Sistem Penyiraman Otomatis
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






