More
    HomeKREASI

    KREASI

    Single Terbaru Tompi, ‘Makan Teman’

    'Makan Teman' sebenarnya adalah sebuah pengingat ala Tompi untuk banyak orang yang masih pamrih dalam kehidupan pertemanannya dengan orang lain. Menurutnya, pertemanan atau bahkan persahabatan harus ikhlas dan rela.

    Tentang Inovasi Puitik

    "Goblok saja tidak cukup untuk menjadi penyair di Indonesia!" Itu mesti jadi semboyan baru dalam dunia puisi Indonesia kontemporer bila ingin maju.

    Menyimak Indonesia Melalui “Orang Desa”

    Sejatinya desa adalah nyawa dari Indonesia, seperti yang dikatakan Presiden RI pertama Indonesia, Ir. Soekarno “Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar “Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!” Aku bukan lagi melihat mata manusia Aku melihat Indonesia”.

    Melankoli Perselingkuhan, Melankoli Kematian

    Benarkah karya seni adalah semata soal “misteri”, sesuatu yang tak bisa dijelaskan, sesuatu yang harus dikeluarkan dari wilayah epistemologi? Apakah misteri itu—jika dirumuskan dengan bahasa formal logika—merupakan sebuah bentuk pernyataan kontradiksi ataukah hal itu justru sebuah pernyataan khaotik karena relasinya dibangun oleh tiga variabel atau lebih?

    Diegesis dan Mimesis Dalam Seni

    Pemisahan antara fakta dengan fiksi sebenarnya adalah soal klasik. Jejaknya bisa ditelusuri sejak pemisahan antara konsep diegesis dengan mimesis, antara menceritakan (tak langsung, narasi) dan menghadirkan (langsung, representasi), antara Plato dan Aristoteles.

    Seni Avant Garde: Presensi Dari Epifani Dan Konsep Logis

    Sebuah falsifikasi terhadap sepotong argumen dari para anggota Akademi Swedia, yang menjadi juri Nobel Sastra 2016, tentang "kebaruan ekspresi puitik" dari lirik-lirik lagu pop karya Bob Dylan.

    Slam Poetry

    Puisi "Slam" adalah semacam gerakan puisi protes—melanjutkan tradisi puisi "Beat" pada tahun 60-an—di Amerika Serikat. Para penyair "Slam" biasa mengorasikan puisi-puisinya di panggung-panggung terbuka acara sastra, di kafe-kafe, dan di taman-taman publik. Mereka membaca puisi, seolah ingin menembus suasana senyap dan bungkam, setelah "revolusi" tak ada lagi.

    KABAR LAINYA