More

    Hanya Sebuah Slogan

    Penulis: Nurul Rafiqua

    Jalanan pagi ini terhitung sepi, mengingatkan Saya bahwa ini hari sabtu, kuliah pukul 6.30 di Hari Sabtu memang tidak menyenangkan, tapi yah Saya masih cukup terhibur dengan segarnya udara pagi Bandung. Kantor Rektorat dan Kantor Fakultas masih tertutup rapat. Sabtu ini para karyawan memang libur, hanya para dosen dan mahasiswa yang giat membagi dan menyerap ilmu. Seandainya alasan “giat” tersebut menjadi alasan tunggal akan jadwal yang tidak nyaman ini, Saya masih bisa terima tapi di kampus kami Unisba (Universitas Islam Bandung) hal tersebut bukan satu-satunya alasan.

    Gedung Biru Unisba berdiri kokoh lebih dari 50 tahun yang lalu di jalanan rindang Taman Sari, mempunyai banyak ruangan yang terus diperbaharui hingga saat ini. Menurut bagian perawatan gedung, jadwal pemeliharan gedung dan sarana perkuliahan dilaksanakan idealnya pada hari sabtu dan minggu. Tapi dengan adanya perkuliahan pada hari sabtu, kegiatan pemeliharaan tersebut menjadi tersendat.

    - Advertisement -

    Hal ini sebenarnya terjadi karena sistem perkuliahan Unisba yang masih menganut sistem lawas. Tahun ajaran boleh 2011 tapi sistemnya tertinggal sepuluh tahun yang lalu. Pengaturan Jadwal, Ruangan, Pembayaran, Data-data mahasiswa semua masih manual. Sehingga kerap menimbulkan kesimpangsiuran. Selain sistem yang kadaluarsa, tahun ini Unisba juga menampung mahasiswa lebih banyak daripada kapasitas fasilitasnya. Apalagi jika menilik tidak imbangnya mahasiswa yang lulus dan masuk, fasilitas ruangan sungguh belum memadai.

    Jadi, berakhirlah kami dengan jadwal paksa yang tidak nyaman ini, karena kurangnya ruangan hingga harus berebut dengan fakultas lain. Bukannya kami manja, tetapi jumlah yang kami bayarkan pada kampus ini pun tidak sedikit, bukankah wajar jika kami menerima kenyamanan sistem dan fasilitas perkuliahan?

    Jika ini soal uang, betapa komersilnya kampus ini, sebaiknya hilangkan saja nama Islamnya. Islam terlalu jauh dari kata komersil. Pihak Kampus seharusnya lebih memikirkan kualitas bukan hanya kuantitas, agar slogan “kampus terdepan” pun bukan hanya menjadi sebuah slogan bisu.[]

    *Penulis adalah mahasiswa Fakultas MIPA jurusan Farmasi UNISBA. Aktif di Pers Mahasiswa “Suara Mahasiswa” Unisba

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here