More

    Menjadi Dewasa di Balik Papan Ketik

    Oleh: Muhammad Farhan Suhu*

    Ilustrasi: freepik

    Manusia merupakan makhluk yang diberi oleh Tuhan berbagai macam kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia diberi kelebihan untuk mengekspresikan bentuk emosi, mulai dari tawaannya di hadapan manusia lain, pun dengan rasa sedihnya yang hanya dengan tatapan mata sudah mampu dipahami oleh siapapun. Juga dengan kemampuan berfikir manusia yang jauh di atas makhluk lainnya sehingga memang teramat sangat pantas jika manusia dinobatkan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

    Dengan kemampuan berfikir tersebut, manusia juga memiliki kepiawaian dalam menghubungkan kata demi kata hingga terbentuk narasi yang bersifat kritikan terhadap sesuatu, baik fenomena politik, ekonomi, sosial, budaya bahkan terhadap isu yang sekalipun tidak jelas sumber dan asal usulnya. Memang benar sebuah kritikan sangat dibutuhkan demi membangun sesuatu menjadi lebih baik, namun tidak jarang dijumpai kritik yang semula memiliki tujuan baik seolah menjelma menjadi hujatan yang dapat menjatuhkan bahkan sebagai simbol ujaran kebencian terhadap sesuatu.

    - Advertisement -

    Fenomena yang berkembang di Indonesia dewasa ini adalah saat sosial media yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri sebebas mungkin, menjelma menjadi sebuah ladang untuk saling berbalas celotehan, amarah, serta kebencian antara satu sama lain melalui kolom komentar dalam sebuah postingan. Sebagai contoh sederhana, beberapa postingan yang beredar di dunia maya terkait sepak bola Indonesia. Memang benar saat ini sepak bola Indonesia tengah naik turun dalam performanya, beberapa hasil buruk yang didapat timnas, permainan yang tidak sesuai dengan harapan, bahkan mereka dituntut bermain indah di tengah duka yang masih menyelimuti dengan adanya kejadian di kanjuruhan.

    Namun permainan yang disuguhkan oleh timnas sendiri tak sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan oleh masyarakat. Bukannya dukungan atau doa kebaikan yang diterima oleh para pemain, pelatih dan jajaran lainnya, melainkan makian dan komentar pesimis yang mewarnai kolom komentar salah satu akun yang mewadahi timnas tersebut. Tiba tiba saja banyak netizen menjelma menjadi coach onlinelayaknya paling mengetahui tentang sepak bola, juga para pendukung yang semula mendukung berbalik menjadi para penyerbu dan perusak mental pemain, dan lebih mirisnya lagi tak sedikit juga komentar tersebut menyerang individu pemain. Tindakan tersebut memang merupakan sebuah tindakan yang sangat tidak bermoral yang diperlihatkan oleh netizen Indonesia.

    Fenomena tadi hanya satu dari sekian banyak fenomena yang serupa dan sampai saat ini semakin merajalela di tengah kehidupan masyarakat. Bentuk tidak dewasanya para pengguna sosial media seolah dipertontonkan ke hadapan publik yang semakin meyakinkan bahwa kita sebagai pengguna media sosial sebenarnya belum siap untuk menjadi bagian dari dunia sosial itu sendiri. Berbagai macam kalimat yang tidak pantas dan sangat amat tidak bermoral yang sudah dilontarkan juga seolah menjadi ciri khas dan karakter masyarakat Indonesia yang belum dewasa dalam memanfaatkan platform sosial media di tengah dunia teknologi yang semakin hari semakin maju.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here