More

    Mahasiswa Hebat

    ALIZAR TANJUNG

    ALIZAR TANJUNG

    Kau tahu itu hebat. “heebaat” orang-orangnya sering memanggilnya hebat, atau cerdas, pintar, santiang, jempol, sabana ko a. Maka hebat itu sangat tangguh. Mulai menguji orang, memberikan apresiasi bahasa kerennya, sampai juga menunjukkan orang itu patut dibanggakan.

    Waktu masa kecil, aku dapat nilai tinggi, bayangkan aku dapat juara satu waktu kelas enam. Aku juga bisa mengalahkan teman yang selalu juara satu sampai kelas lima. Tapi kelas enam berpindah pucuk tampuk nomor one. Sebab itu pula aku masuk kuliah. Aku bisa kuliah. Hebatkan. Anak kampung bisa kuliah. Orangtuaku juga hebat mau mengkuliahkan aku. bahkan aku dizinkan saja kuliah tanpa beliau di Padang. “Silahkan kuliah, fokuskan kuliahmu. Jangan kau pikirkan abak dan ibu di kampung. Urusan uang kuliah jangan kau pikirkan.” Orangtua hebat. Dia punggungi matahari mencangkul tanah. Dia biarkan keringat mengalir. Orangtua jual isi sawah dan ladang. Ini untuk anakku, ini untuk uang kuliahnya, ini untuk tukar bajunya, in untuk beli laptopnya, ini untuk beli bukunya, ini belanja bulanannya, inibeli sambal dan berasnya.

    - Advertisement -

    Orang tangguh, hutangkan uang untuk anaknya. “Pokoknya anakku mesti kuliah. Biar aku jadi orang susah. Yang penting anakku tidak jadi anak susah seperti aku.” Orangtua jadi kuli menakik getah di rimba, menjunjung kayu untuk dijual di kota, membanting tulang ke ladang orang.

    “Anakku di kota harus baik-baik saja kuliahnya. Tak boleh kurang belanjanya.” Orangtua tanggangkan matanya sebagai buruh kerja, kadang menghuni ladang di tengah malam hening. Orangtua tidak pikirkan letihnya. Tak terpikir kapan keringatnya mengering.

    Mahasiswa di kampus pakai baju bagus, siapa lagi kalau bukan orang tuanya yang belikan. Mahasiswa berjalan dengan melenggang-lenggok di badan jalan, orang tua meneruka ladang. Mahasiswa bicara cengas-cengis sama si doi, orang tua memelas keringatnya di ladang, di sawah, di buruh pabrik. Hebatkan! Mahasiswa tidur-tidur nyenyak di kos, hidupkan TV, dengarkan radio, hidupkan komputer, siapa lagi yang membelikan kalau bukan orangtua. Orangtua terus mencucurkan keringatnya, kepalanya menjunjung kayu api, tangannya kasar-kasar membongkar tanah.

    Lebih hebat lagi mahasiswa belajar dengan dosen, dosen tidak masuk. Mahasiswa senang “Alhamdulillah dosen tidak masuk.” Di ladang, di sawah, di pasar, orangtua terus berharap, “Anakku harus jadi orang sukses. Ia harus menjadi orang yang berhasil jujur. Cerdas.” Mahasiswa pulang dengan gembiranya ke kos. Kalau minggu depan dosen tidak masuk alhamdulillah juga, kalau sama sekali tidak masuk dosennya tidak apa, yang pentingnya nilanya A atau B. Di kampung halaman, orangtua berharap anakku harus diisi otaknya dengan ilmu. “Aku ingin anakku jadi semacam Bung Hatta yang gemar membaca buku, intelektual tinggi.”

    Nah, yang lebih menarik dan hebat. Mahasiswa tidak usah baca buku. Ujian kan bisa lihat jimat. Kalau tidak minta tolong sama kawan. Atau mengulang semester berikutnya. Kan orangtua ada uangnya untuk biaya kuliah. Satu tahun dua tahun lagi juga tidak apa. Yang penting uang masuk rekening. Orangtua dikampung berharap anaknya jadi orang yang jujur. Orangtua berharap anaknya cepat selesa. Mahasiswa cukup dengan alasan “Kuliah itu sulit sekali mak, bak, bu, yah.” Gampang kan. Kalau kuliah ndak juga usai-usai pakai SP saja. Orangtua pasti mau bayarkannya. Beri saja alasan “Agar cepat tamat.” Mereka pasti percaya.

    Hebat, mahasiswa wisuda dengan IP 3 atau 4. Kan bagus itu. Tak penting isi kepalanya. Yang penting angka 4 atau angka 3-nya. Urusan kerja nanti. Orangtua percaya anak tamat dengan intelektual yang tinggi, otak yang cerdas. Tak sia-sia keluar keringatnya. Hebat, mahasiswa hebat. “Hebat”. Nah Hebat ‘kan.[]

     

    Pemerhati Pendididikan. Mahasiswa Jurusan Pendidikan IAIN Imam Bonjol Padang.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here