Ahmad Fauzan Sazli
YOGYAKARTA, KabarKampus – Universitas Muhammadiyah Yogykarta (UMY) mengumpulkan debu vulkanik gunung Kelud yang ada di Yogyakarta. Untuk tahap awal, mereka menurunkan dua mobil truk untuk mengangkat debu vulkanik yang ada di sekitar Jalan Malioboro. Abu Kelud ini nantinya digunakan untuk penelitian.
Eko Wahyudi, Kepala Biro Umum UMY mengatakan, selain untuk membantu masyarakat membersihkan abu, kegiatan ini juga bertujuan untuk pemanfaatan abu untuk penelitian di Fakultas Pertanian, Kedokteran dan Fakultas Tehnik.
“Dengan keihklasan kita untuk mengumpulkan abu ini, dua tiga pulau terlampau. Membantu masyarakat, untuk pengembangan akademik dan pengendara di jalan juga,” ungkapnya.
Sebelum terjun ke jalan, tim relawan sudah mengumpulkan abu Kelud sebanyak satu truk dari kampus UMY. Sedangkan untuk di jalanan, tim relawan UMY tinggal mengambil karung abu yang sudah dibersihkan warga.
“Sebelumnya kita survey, rupanya abu itu cuma ditinggal di tepian jalan sama warga. Untuk itulah kita angkut dan kita manfaatkan untuk riset,” jelas Eko.
Sementara itu, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, Wakil Rektor Bidang Akademik UMY mengatakan, bahwa selama ini penelitian yang difokuskan masih mengenai dampak negatif dari abu letusan gunung. Padahal, menurutnya, dampak positif dari abu letusan gunung itu juga ada.
Gunawan mengacu pada hasil penelitian yang telah dilakukannya bersama timnya, dalam mengkaji kandungan nutrisi yang dimiliki oleh abu letusan gunung Merapi.
“Hasil penelitian dari abu letusan gunung Merapi itu ternyata ditemukan cadangan mineral yang cukup banyak pada abu itu. Selain itu juga mengandung magnesium dan serum yang menurut aspek kimianya, kandungannya itu merupakan sumber nutrien bagi pertanian. Tapi dengan syarat, abu letusan gunung itu sudah mengalami proses lapukan,” paparnya.
Adapun proses lapukan itu, lanjut Dosen Pertanian UMY ini, adalah proses pelepasan unsur-unsur yang terkandung dalam abu letusan gunung sehingga terlepas dari unsur primernya. Kemudian unsur yang baru bisa dimanfaatkan untuk pertanian.
“Proses pelapukan yang terjadi itu juga melalui proses pelapukan karena alam. Seperti basah – kering, basah – kering. Kalau dia abu murni, setahun dua tahun sudah bisa digunakan. Tapi kalau dia bercampur dengan material lain, butuh waktu bertahun-tahun,” ungkapnya.[]






