Ahmad Fauzan Sazli

DEPOK, KabarKampus – Untuk pertama kalinya, setelah reformasi Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia hanya terdiri dari dua pasang calon, yakni Prabowo – Hatta dan Jokowi – JK. Sejumlah pihak pun berasumsi Pilpres tahun 2014 rawan terjadinya konflik.
Dra. Nuri Soeseno, M.A., Ph.D, Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia mengatakan, konflik dalam Pilpres bisa terjadi karena ada penyulutnya. Namun selama tataran elitnya bisa bekerja sama untuk mencegah hal itu maka konflik tidak akan muncul.
“Saya percaya ada usaha untuk menghidupkan gaya lama, namun saya percaya itu tidak besar,” kata Drs Nuri Saat ditemui di kampus UI Depok, Senin, (24/06/2014).
Menurutnya, sebagai ilmuan politik yang sudah mengamati pemilu sejak lama, ia tidak mengkhawatirkan adanya konflik. Baginya pemilih Indonesia adalah pemilih yang cerdas.
Ia menjelaskan, pada saat ia ikut memantau pemilu tahun 1999, suasana jauh pemilu lebih seram dan lebih mengkhawatirkan. Ketika itu kecenderungan konfliknya jauh lebih besar. Militer belum mau keluar. Namun tidak muncul juga.
“Jadi saya percaya rakyat kita ngga gampang terprovokasi pada pemilu tahun ini,” katanya.
Dra Nuri menjelaskan, yang perlu ditakutkan dalam pemilu kali ini adalah angka Golput lebih tinggi dari pemilih. Menurutnya biaya pemilu terlalu mahal bila rakyat tidak menggunakan hak suaranya.
“Kalau banyak yang Golput, Pemilu bisa dua putaran,” terang Dra. Nuri.[]






