Frino Bariarcianur

YOGYAKARTA, KabarKampus-Pemanfaatan nuklir sebagai tenaga listrik masih belum terealisasi. Sementara di bidang pangan dan kesehatan tidak banyak menimbulkan pro dan kontra. Mengapa?
Menurut Susetyo, pengamat nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM), pemahaman tentang nuklir diperoleh dari pelajaran sejarah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
“Inilah yang membuat nuklir menjadi sangat menakutkan,” kata Susetyo dalam acara sosialisasi Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir dihadapan para perwakilan akademisi, mahasiswa dan tokoh masyarakat di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Kamis (28/08/2014). AP/Shizuo Kambayashi
Padahal Indonesia telah memanfaatkan nuklir, salah satu contohnya Si Denok dan Mugibat yang merupakan varietas padi hasil rekayasa pemanfaatan tenaga nuklir. Padi ini kuat saat diserbu hama penyakit seperti wereng dan sundep setelah lewat musim hujan.
Namun lagi-lagi karena nuklir, Si Denok pun masih ditakuti oleh sejumlah petani. Hal inilah yang menjadi salah satu kendala besar kenapa pengembangan nuklir di Indonesia terkesan lambat.
“Masyarakat belum diedukasi secara lebih baik terkait pengenalan teknologi nuklir,” ungkap Susetyo seperti dilansir HUMAS UGM.
Lebih lanjut Susetyo mengatakan sosialisasi perngembangan dan pemanfaaatn teknologi nuklir tidak cukup hanya lewat media internet karena tidak semua masyarakat bisa menjangkau.
Susetyo mengusulkan agar pemerintah lebih menekankan pada pengembangan kurikulum di sekolah. “Negara maju sudah mengenalkan nuklir sejak sekolah dasar,” ungkapnya.
Apakah Anda setuju, kurikulum pendidikan sekolah mengenalkan nuklir?[]






