More

    Dari 30 Ribu Spesies Tumbuhan, Baru 180 Dimanfaatkan Sebagai Obat

    Seminar Nasional Kimia yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia UNY di FMIPA UNY, Sabtu, (25/05/2015). Dok. UNY
    Seminar Nasional Kimia yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia UNY di FMIPA UNY, Sabtu, (25/05/2015). Dok. UNY

    YOGYAKARTA, KabarKampus – Diperkirakan Indonesia memiliki sekitar 30 Ribu tumbuhan di hutan tropika dan diperkirakan ada sekitar 1.260 spesies yang memiliki khasiat sebagai obat. Namun baru sekitar 180 spesies yang telah digunakan untuk keperluan industri obat dan jamu. Selain itu baru beberapa spesies saja yang telah dibudidayakan secara intensif.

    Hal ini disampaikan Prof. Dr. Sri Atun, guru besar bidang Kimia Bahan Alam FMIPA UNY pada acara Seminar Nasional Kimia yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia UNY di FMIPA UNY, Sabtu (23/5/2015).

    Menurutnya, selain tumbuhan, terdapat organisme lain seperti jamur ataupun mikroba yang belum banyak tersentuh oleh peneliti. Keanekaragaman hayati tersebut merupakan sumber biomolekul senyawa-senyawa organik yang tidak terbatas jumlahnya.

    - Advertisement -

    Lebih lanjut dikatakan, perkembangan dalam penelitian bahan alam mengalami kemajuan yang semakin cepat dengan ditemukannya teknik-teknik pemisahan secara kromatografi dan penentuan struktur molekul secara spektroskopi pada pertengahan abad ke-20. Dengan metode tersebut beberapa struktur senyawa bioaktif berhasil ditemukan. Misalnya penemuan alkaloid seperti vinblastine dan vinkristin dari tumbuhan tapak dara sebagai obat kanker.

    Tanaman lain, kata Prof Sri,  yang bisa dimanfaatkan antara lain gondopuro sebagai bahan dasar  penghilang rasa sakit kepala; cengkeh, minyaknya digunakan dalam industri untuk pembuatan obat gigi, penyedap rasa, parfum, anti jamur, anti bakteri, dan anti serangga, dan sebagainya.

    Selanjutnya menurut Septi Nur Hayati dari Pusat Penelitian Kimia – Kelompok Penelitian Bahan Baku Obat yang sedang dikerjakan sampai dengan tahun 2015 di antaranya uji klinik ekstrak daun sukun sebagai fitofarmaka antidiabetes dan antikolesterol, pencarian antidiabetes dari biota laut, pengembangan senyawa antimalarial alami, dan pengembangan biota laut  sebagai antibakteri.

    “Riset obat tidak dapat diselesaikan secara tuntas hanya dengan menggunakan satu pendekatan suatu cabang ilmu saja. Pemecahan masalah dengan pendekatan interdisiplin menjadi sebuah kebutuhan,” kata Septi.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here