More

    Kenapa Magang Sekarang Terasa Wajib, Padahal Statusnya Masih Mahasiswa?

    Ilustrasi.

    Ada satu pertanyaan yang mulai sering muncul di kalangan mahasiswa beberapa tahun terakhir. Bukan lagi soal kapan skripsi selesai atau bagaimana cara mendapatkan IPK 4,00, melainkan pertanyaan yang terdengar lebih sederhana, “Kamu sudah magang belum?”

    Kalimat itu kini nyaris menjadi pembuka percakapan di kampus. Mahasiswa semester empat mulai mencari lowongan. Mahasiswa semester lima sibuk memperbarui CV. Mahasiswa semester enam mengunggah pengalaman magangnya ke LinkedIn. Sementara mahasiswa yang belum pernah magang mulai merasa tertinggal, meski nilai kuliahnya baik-baik saja.

    Perlahan, magang berubah status. Ia bukan lagi sekadar pelengkap selama kuliah, melainkan sesuatu yang terasa wajib. Seolah-olah menjadi mahasiswa saja tidak cukup untuk menghadapi dunia kerja. Lalu, bagaimana kita sampai pada situasi ini?

    - Advertisement -

    Selama bertahun-tahun, kuliah dipandang sebagai jalan utama menuju pekerjaan yang layak. Lulus dari perguruan tinggi dianggap sudah menjadi modal besar untuk memasuki dunia kerja. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun. 

    Di sisi lain, pertumbuhan lapangan kerja tidak selalu mampu mengimbangi jumlah lulusan baru. Persaingan menjadi semakin ketat, sementara perusahaan memiliki lebih banyak pilihan dalam mencari kandidat. Akibatnya, gelar sarjana yang dulu menjadi keunggulan kini berubah menjadi syarat dasar. Hampir semua pelamar memilikinya. 

    Namun yang kemudian membedakan satu kandidat dengan kandidat lainnya justru pengalaman, keterampilan, dan portofolio. Di sinilah magang mulai memperoleh posisi yang berbeda. Pengalaman bekerja selama beberapa bulan sering kali dianggap lebih menarik dibanding sekadar daftar nilai yang bagus.

    Tidak sedikit perusahaan yang memasang syarat “pengalaman menjadi nilai tambah” bahkan untuk posisi fresh graduate. Kalimat itu memang terdengar paradoks. Bagaimana mungkin lulusan baru diminta memiliki pengalaman? Namun, dari sudut pandang perusahaan, alasan tersebut cukup masuk akal. 

    Proses adaptasi karyawan baru membutuhkan waktu dan biaya. Kandidat yang pernah magang biasanya dinilai lebih memahami budaya kerja, mampu bekerja dalam tim, terbiasa menghadapi tenggat waktu, dan lebih cepat beradaptasi. Akibatnya, mahasiswa merasa perlu mengenal dunia kerja sebelum benar-benar lulus. 

    Magang menjadi cara paling realistis untuk memperoleh pengalaman tersebut. Tidak heran jika sekarang banyak mahasiswa yang sudah menjalani dua hingga tiga kali magang sebelum wisuda.

    Magang Bukan Lagi Sekadar Belajar

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here