
Pada Jumat petang, 27 Oktober 2023, salah satu jantung Kota New York mendadak berubah wajah.
Grand Central Terminal yang biasanya dipenuhi derap kaki para pekerja dan penumpang berubah menjadi ruang demonstrasi. Ratusan orang duduk memenuhi lantai terminal. Sebagian mengenakan pakaian hitam. Para rabi berada di antara mereka. Doa-doa Yahudi terdengar bersamaan dengan seruan meminta penghentian perang di Gaza.
Di tengah kerumunan itu berdiri spanduk-spanduk besar. Salah satunya membawa pesan yang menjadi identitas politik sebuah gerakan Yahudi Amerika: penolakan bahwa kekerasan terhadap Palestina dilakukan atas nama mereka.
Demonstrasi yang diorganisasi Jewish Voice for Peace–New York itu akhirnya membuat Grand Central ditutup sementara. Lebih dari 300 orang ditangkap polisi. Jewish Voice for Peace menyebut hampir 400 aktivis ditahan, sementara Reuters melaporkan bahwa terminal tersebut ditutup akibat demonstrasi dan otoritas transportasi meminta penumpang mencari jalur alternatif.
Nama organisasi di balik aksi itu adalah Jewish Voice for Peace, atau JVP.
Dalam waktu kurang dari tiga dekade, kelompok yang bermula dari tiga mahasiswa di California ini berkembang menjadi salah satu organisasi Yahudi anti-Zionis paling menonjol di Amerika Serikat—dan sekaligus salah satu kelompok Yahudi paling kontroversial dalam perdebatan mengenai Israel dan Palestina.
Bermula dari Tiga Mahasiswa Berkeley
Sejarah JVP dimulai jauh sebelum demonstrasi besar Gaza pada 2023.
Pada 1996, tiga mahasiswa University of California, Berkeley—Julia Caplan, Julie Iny, dan Rachel Eisner—mendirikan sebuah kelompok kecil Yahudi yang awalnya bekerja secara sukarela.
Konteks politiknya penting. Setahun sebelumnya, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dibunuh. Proses Oslo mengalami krisis dan Benjamin Netanyahu memenangkan pemilu Israel pada 1996. Menurut Caplan, salah satu pemicu aktivisme mereka adalah kontroversi pembukaan terowongan arkeologi di dekat kompleks Masjid Al-Aqsa/Temple Mount oleh pemerintah Netanyahu, yang kemudian memicu bentrokan berdarah. Ketiganya ingin pemerintah Bill Clinton menggunakan pengaruh Amerika Serikat untuk menekan pemerintah Israel.
JVP saat itu belum menjadi organisasi anti-Zionis seperti sekarang.
Bahkan, dalam fase awalnya organisasi tersebut sengaja tidak mengambil posisi resmi mengenai Zionisme. JVP mengatakan strategi itu dimaksudkan agar diskusi di kalangan Yahudi Amerika tetap terbuka. Pada 2002, organisasi ini mulai membangun basis akar rumput yang lebih luas dengan tujuan mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat terhadap Israel-Palestina.
Perubahan itu berlangsung perlahan tetapi menentukan.
JVP bergerak dari kelompok perdamaian menuju organisasi yang semakin menempatkan hak-hak Palestina sebagai pusat agenda politiknya.
Titik Balik: Mendukung BDS
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






