
Titik Balik: Mendukung BDS
Salah satu titik penting terjadi pada 2015.
JVP secara resmi mendukung gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) yang lahir dari seruan organisasi-organisasi masyarakat sipil Palestina. BDS menggunakan boikot, penarikan investasi dan tekanan ekonomi sebagai instrumen politik terhadap Israel.
Menurut JVP, dukungan tersebut ditujukan untuk mendorong berakhirnya pendudukan wilayah yang direbut pada 1967, kesetaraan hak bagi warga Palestina di Israel, serta penghormatan terhadap hak-hak pengungsi Palestina.
Keputusan itu membawa JVP semakin jauh dari banyak organisasi arus utama Yahudi Amerika.
Kemudian organisasi tersebut memperjelas posisinya sebagai anti-Zionis. JVP berpendapat bahwa keamanan Yahudi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kebebasan dan hak politik Palestina. Organisasi ini sekarang menggambarkan dirinya sebagai gerakan Yahudi akar rumput yang memperjuangkan kebebasan Palestina dan membangun kehidupan Yahudi “beyond Zionism”.
Posisi tersebut sekaligus menjadi sumber kontroversi terbesar JVP.
Anti-Defamation League dan sejumlah organisasi Yahudi pro-Israel mengkritik JVP karena dukungannya terhadap BDS dan pandangan anti-Zionisnya. Sebaliknya, JVP menolak penyamaan anti-Zionisme dengan antisemitisme. JVP secara eksplisit menyatakan bahwa menyerang orang Yahudi karena identitas Yahudinya atau menyalahkan semua orang Yahudi atas tindakan pemerintah Israel adalah antisemitisme dan harus ditolak.
Dengan demikian, pertarungan JVP berlangsung bukan hanya di jalan, tetapi juga di dalam perdebatan tentang apa arti identitas Yahudi di Amerika Serikat.
Dari Divestasi hingga “Deadly Exchange”
Sebelum namanya mendunia pada 2023, JVP telah bertahun-tahun menggunakan kampanye ekonomi dan aksi langsung.
Pada 2010–2013, organisasi tersebut terlibat dalam kampanye terhadap perusahaan pengelola dana pensiun TIAA-CREF, mendorong divestasi dari perusahaan-perusahaan yang mereka anggap terlibat dalam pendudukan wilayah Palestina.
Laporan tahunan JVP menyebut pada 2012 sebuah dana investasi sosial TIAA-CREF melepas saham Caterpillar senilai sekitar US$72 juta, meski hubungan langsung antara kampanye JVP dengan keputusan investasi perusahaan harus dibaca sebagai klaim organisasi mengenai dampak kampanyenya.
Pada 2017, JVP meluncurkan kampanye Deadly Exchange, menentang program pertukaran dan pelatihan antara aparat penegak hukum Amerika Serikat dan Israel.
Dalam aksi nasional November 2017, demonstrasi berlangsung di 15 kota dan lebih dari 20.000 orang disebut telah menandatangani petisi kampanye tersebut.
JVP kemudian masuk pula ke dunia teknologi.
Bersama pekerja teknologi dan organisasi lain, mereka terlibat dalam kampanye No Tech for Apartheid, menentang Project Nimbus—kontrak cloud Google dan Amazon dengan pemerintah Israel senilai sekitar US$1,22 miliar. Menurut laporan tahunan JVP, lebih dari 40.000 pendukung kampanye mengirim pesan kepada eksekutif kedua perusahaan tersebut.
Pola gerakannya semakin jelas: demonstrasi jalanan digabungkan dengan advokasi, tekanan korporasi, divestasi, kampanye digital dan pembentukan jaringan lintas gerakan.
2021: Mobilisasi Gaza Membesar
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






