Oleh: Dero*

Papan skor masih memperlihatkan angka 0-0 ketika pertandingan memasuki akhir babak tambahan pertama. Namun, siapa pun yang hanya melihat kedudukan akan kehilangan cerita sebenarnya.
Sampai menit ke-105, Spanyol telah melepaskan 19 tembakan, sepuluh di antaranya tepat menuju gawang. Argentina? Belum sekali pun menembak.
Spanyol menguasai bola hingga 68 persen, menghasilkan 732 operan dengan akurasi 91 persen, dan memperoleh sembilan tendangan sudut. Argentina hanya menguasai 32 persen permainan, mencatatkan 370 operan dengan akurasi 79 persen, serta memperoleh satu sepak pojok.
Skornya memang masih imbang. Tetapi lapangan pertandingan telah miring sepenuhnya ke arah Argentina.
Satu menit kemudian, angka-angka itu akhirnya menemukan bentuknya dalam sebuah gol. Ferran Torres, pemain yang masuk dari bangku cadangan, menyambar bola di kotak penalti dan menghantamkannya dengan kaki kiri ke bawah mistar gawang Emiliano Martínez. Gol menit ke-106 tersebut membawa Spanyol menang 1-0 dan meraih gelar Piala Dunia keduanya setelah kejayaan di Afrika Selatan pada 2010.
Skor yang Menipu
Final Piala Dunia biasanya berlangsung hati-hati. Ruang menyempit, keberanian mengambil risiko berkurang, dan setiap kesalahan dapat mengubah sejarah. Karena itu, kedudukan tanpa gol sampai menit ke-105 sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
Yang mengejutkan adalah bagaimana hasil 0-0 itu tercipta.
Spanyol bukan sekadar lebih sering memegang bola. Mereka membuat Argentina nyaris tidak memiliki kehidupan ofensif. Hingga berakhirnya waktu normal, Argentina menjadi tim pertama dalam sejarah final Piala Dunia yang tidak mencatatkan satu pun tembakan selama 90 menit. Bahkan setelah 15 menit pertama perpanjangan waktu selesai, jumlah tembakan Argentina masih nol.
Baru pada menit ke-117 Lionel Messi menghasilkan percobaan pertama Argentina. Sepanjang 120 menit, sang juara bertahan akhirnya hanya melepaskan tiga tembakan. Salah satunya merupakan peluang Giuliano Simeone yang melambung ketika Argentina sedang mati-matian mencari gol penyeimbang.
Dengan kata lain, final ini bukan pertandingan berimbang yang kebetulan dimenangkan Spanyol. Ini adalah pertandingan yang dikuasai Spanyol, tetapi dibuat tampak ketat oleh ketangguhan Emiliano Martínez dan kegagalan La Roja mengubah peluang menjadi gol lebih cepat.
732 Operan dan Sebuah Bentuk Kekuasaan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>







Gak ngerti bola.. Tp, sy dukung Spanyol krn dukungannya terhadapat Palestina, dan saya tahu klo lawannya berteman dengan Trumpet dan Setanyahu.. Hidup Spanyol.. Merdeka Palestina.. Panjang umur perlawanan…✊✊
Gak perlu banyak kata..
KERREEN ABIS!!!! Buat Team SPANYOL!!!