Oleh: Furqan AMC*

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Oval Office, Selasa (28/7) siang waktu setempat. Kedatangan Netanyahu ke negeri Paman Sam kali ini disikapi berbeda oleh Publik Amerika.
Survei terbaru yang digelar The Economist / YouGov pada 25–27 Juli 2026 mengungkap pergeseran drastis dalam pandangan publik AS terhadap konflik di Gaza dan sang pemimpin Israel. Bayang-bayang surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) tak lagi sekadar menjadi perdebatan abstrak di ruang sidang Den Haag, melainkan topik hangat yang membelah ruang tamu keluarga di Washington hingga California.
Hampir separuh warga Amerika Serikat—tepatnya 49%—menilai bahwa pemerintah AS seharusnya menangkap Benjamin Netanyahu ketika ia berkunjung ke Negeri Paman Sam. Langkah penangkapan tersebut dinilai sah berlandaskan surat perintah yang diterbitkan ICC. Hanya 27% warga yang menentang ide penangkapan tersebut, sementara sisanya (23%) mengaku masih ragu-ragu.
Membelah Garis Partai:
Dukungan penangkapan ini didorong kuat oleh pendukung Partai Demokrat (68% mendukung penangkapan) serta pemilih Independen (55%). Sebaliknya, 53% warga pendukung Partai Republik tegas menolak ide menyerahkan Netanyahu ke Mahkamah Internasional.
Perpecahan ini bukan sekadar soal prosedur hukum internasional, melainkan cerminan persepsi moral atas apa yang terjadi di garis depan Gaza. Sebanyak 47% warga AS meyakini Netanyahu bertanggung jawab dan bersalah atas kejahatan perang di Gaza, berbanding 24% yang menganggapnya tidak bersalah. Tak mengherankan jika 47% responden juga menilai bahwa manuver dan kepemimpinan Netanyahu justru telah merusak hubungan sejarah yang panjang antara AS dan Israel.
Bayang-Bayang “Genosida” dan Sikap Publik AS
Bersambung ke halaman selanjutnya –>







Setuju 100%! Surat perintah penangkapan dari ICC harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tidak ada seorang pun yang kebal hukum atas kejahatan perang dan krisis kemanusiaan di Gaza!