Oleh: Furqan AMC*

Ada sebuah hukum tak tertulis dalam dunia geopolitik yang kerap dilupakan oleh para pembuat kebijakan di Washington: perang mudah dimulai, tetapi hampir selalu mustahil dikendalikan sesuai rencana.
Ketika parade kekuatan udara meluncur ke langit Timur Tengah (Asia Barat), kalkulasi Amerika Serikat di atas kertas tampak begitu percaya diri. Sebuah operasi militer yang dirancang berlangsung singkat—mungkin empat hingga enam minggu—untuk menundukkan Iran, mengamankan Selat Hormuz, dan memaksa Tehran berlutut di meja perundingan.
Namun, memasuki minggu ke-21, optimisme itu telah menguap. Yang tersisa di lapangan bukan lagi narasi kemenangan cepat, melainkan apa yang dirangkum secara menohok oleh pakar hubungan internasional kawakan dari University of Chicago, Prof. John Mearsheimer: sebuah bencana strategis yang tak terelakkan bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Gertakan Sipil dan Bumerang Perang Asimetris
Semuanya bermula ketika eskalasi tak lagi mengenal batas. Frustrasi karena musuh tak kunjung menyerah, Washington mulai menggeser sasaran tembaknya dari fasilitas militer ke infrastruktur vital—pembangkit listrik, jembatan, hingga kilang minyak di pedalaman Iran. Tujuannya transparan: menguras daya tahan dan mematahkan mental lawan.
Tetapi Tehran tidak merespons dengan bendera putih. Mereka membalas dengan kalkulasi dingin.
Memanfaatkan ribuan drone murah dan rudal balistik yang tertanam rapi di bunker bawah tanah serta perut pegunungan, Iran meluncurkan serangan balasan ke fasilitas penyulingan air laut (desalination plants) dan stasiun listrik milik sekutu AS di Kuwait hingga Bahrain. Pesan dari Tehran sangat jelas: jika kehidupan di negara kami dihancurkan, seluruh jantung ekonomi kawasan Teluk akan kami seret ke dalam kegelapan.
“Sekutu-sekutu Teluk kini panik,” ungkap John Mearsheimer dalam wawancaranya bersama Tom Switzer kemarin lusa. “Ponsel di Washington tak berhenti berdering—bukan berisi ucapan dukungan, melainkan rintihan agar serangan ke target sipil segera dihentikan sebelum seluruh Teluk berubah menjadi puing.”
Seketika, fungsi pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk berbalik 180 derajat. Pangkalan yang selama ini diagungkan sebagai benteng pelindung justru berubah menjadi magnet raksasa yang menarik datangnya bahaya bagi negara-negara tuan rumah.
Ilusi Pertahanan Udara dan Krisis Amunisi
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






