Magang Bukan Lagi Sekadar Belajar
Idealnya, magang adalah ruang belajar. Mahasiswa datang untuk mengenal dunia profesional, memahami bagaimana teori diterapkan, sekaligus menemukan bidang yang sesuai dengan minat mereka. Sayangnya, dalam praktiknya, makna magang sering bergeser.
Banyak mahasiswa mengikuti magang bukan karena ingin belajar, melainkan karena takut kalah bersaing saat melamar pekerjaan nanti. Pengalaman magang akhirnya berubah menjadi modal administratif yang harus dimiliki agar CV terlihat lebih menarik.
Fenomena ini terlihat dari semakin ramainya platform pencarian magang. Lowongan yang dibuka perusahaan besar sering diperebutkan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah. Bahkan, proses seleksinya tak jarang hampir sama ketat dengan rekrutmen karyawan tetap.
Magang yang seharusnya menjadi proses pembelajaran kini berubah menjadi kompetisi baru. Perubahan ini juga tidak lepas dari kebijakan pendidikan tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kampus mulai memperluas kesempatan mahasiswa untuk belajar di luar ruang kelas melalui program magang.
Kebijakan seperti Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), misalnya, membuat magang dapat dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS). Banyak perguruan tinggi kemudian menjalin kerja sama dengan perusahaan, instansi pemerintah, hingga organisasi non-profit agar mahasiswa memperoleh pengalaman kerja sebelum lulus.
Langkah tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang baik. Kampus ingin memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Namun, efek sampingnya juga mulai terlihat. Magang perlahan dipersepsikan sebagai kewajiban baru.
Mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman magang sering merasa tertinggal dibanding teman-temannya, meski belum tentu demikian. Tidak Semua Mahasiswa Memiliki Kesempatan yang Sama Di balik tren magang, ada persoalan lain yang jarang dibicarakan.
Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang memungkinkan mereka mengikuti magang, terutama jika program tersebut berada di kota besar atau tidak memberikan uang saku yang memadai. Banyak mahasiswa masih harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah. Ada pula yang harus pulang pergi dari rumah karena tidak mampu menyewa tempat tinggal di kota tempat perusahaan berada.
Dalam situasi seperti itu, mengikuti magang selama beberapa bulan bukan keputusan yang mudah. Akibatnya, kesempatan memperoleh pengalaman sering kali bergantung pada kondisi ekonomi masing-masing mahasiswa. Oleh karena itu, ketika pengalaman magang dijadikan standar utama dalam proses rekrutmen, muncul pertanyaan tentang kesetaraan akses.
Apakah semua mahasiswa benar-benar memiliki peluang yang sama untuk mendapatkannya?
Pengalaman Penting, Tetapi Bukan Segalanya
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






