More

    Atasi Krisis Pertanian, Unpad Dituntut Meninggalkan Menara Gading

    ENCEP SUKONTRA

    Pertanian menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Jumlah penduduk makin tinggi, lahan makin berkurang, sedangkan para petani makin tergeser industri.

    Prof. Dr.med. Tri Hanggono Achmad, Rektor Unpad. Foto : Fauzan Sazli
    Prof. Dr.med. Tri Hanggono Achmad, Rektor Unpad. Foto : Fauzan Sazli

    BANDUNG, KabarKampus-Menghadapi masalah klasik tersebut, universitas sebagai “think tank” bangsa Indonesia sudah seharusnya melek terhadap masalah pertanian. Terlebih akhir-akhir ini pemerintah mencanangkan kebijakan kedaulatan pangan. Kebijakan ini akan sulit terwujud jika tanpa didukung kampus.

    - Advertisement -

    Tri Hanggono Achmad, Rektor Universitas Padjdjaran (Unpad) mengakui kedaulatan pangan akan sulit terwujud jika hanya dibebankan pada sektor pertanian.

    Menurut mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unpad ini, perlu koordinasi dan sinergi yang bersifat multisektor atau multidisiplin dalam mengatasi masalah-masalah di bidang pertanian.

    “Kita harus mampu saling berkoordinasi dan bersinergi. Di situ kendalanya. Berat kalau hanya kerja sektoral saja,” kata Tri Hanggono Achmad, saat dihubungi Kabar Kampus, baru-baru ini.

    Ia mengungkapkan, kebijakan pemerintah memang tengar mengarah pada pembangunan kedaulatan pangan mulai dari pembangunan sistem pertanian berikut fasilitas yang ada di dalamnya.

    Di sisi lain, Indonesia mengalami krisis SDM bidang pertanian, yakni menurunnya jumlah petani maupun tenaga terdidik bidang pertanian. Penurunan jumlah juga terjadi pada tenaga penyuluh atau insinyur pertanian.

    Ia menegaskan, memang sudah seharusnya pemerintah berkonsentrasi pada masalah pertanian. Sebab, sambung dia, sejak dulu negeri ini dikenal sebagai negara berbasis agraria. “Tentu jika ingin membangun ketahanan pangan kuncinya ada di petani salah satunya,” tandasnya.

    Namun untuk mendukung sektor pertanian tidak bisa hanya fokus dari sisi petani. Terlebih masalah pertanian cukup kompleks mulai dari masalah orangnya, kehidupan petani, lahan pertanian yang banyak dikonversi dan kebijakan-kebijakan yang harus dibuat untuk memajukan pertanian.

    “Harus dari berbagai aspek,” ujarnya.

    Peran Perguruan Tinggi Terhadap Pertanian

    Secara tegas Tri Hanggono Achmad menyatakan perguruan tinggi bertugas menghasilkan Sumber Daya Manusia berkualitas, penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, serta aspek pengabdian masyarakat.

    “Tiga aspek itulah yang harus dipadukan untuk menjawab setiap persoalan termasuk pertanian,” ujarnya.

    Dengan kata lain, kata dia, perguruan tinggi tidak bisa berperan sebagai menara gading, jauh dengan masalah yang berkembang di masyarakat. Begitu juga Unpad.

    Perguruan tinggi, kata dia, harus hadir di tengah-tengah masyarakat, mengintegrasikan berbagai bidang ilmu yang ada di dalamnya. “Begitu juga dalam menjawab masalah-masalah pertanian, seluruh disiplin ilmu harus ikut terlibat, bukan hanya fakultas pertanian saja,” katanya.

    Kampus harus terjun dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat, seperti pengusaha dan pemerintah. Integrasi ini akan menghadirkan proses transformasi dari kampus ke maskarakat.

    “Dengan cara itu petani akan merasa diyakinkan bahwa pertanian ke depan akan maju, mereka akan dibantu dari sisi perkembangan teknologi, sedangkan mahasiswa pertanian akan melihat prospek lebih baik, mereka tidak akan merasa sendirian karena ada bidang lain yang mendukung,” paparnya.

    Untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas SDM, sejak 2013 Unpad menjalankan program Unpad Nyaah Ka Jabar (Unpad menyayangi Jawa Barat), sebuah program afirmasi masuk Unpad yang memberikan kesempatan kepada putra putri daerah dari seluruh Jawa Barat untuk diterima menjadi mahasiswa Unpad.

    Tri mengatakan, mahasiswa yang mengikuti program ini diharapkan dapat kembali ke daerah untuk turut membangun daerah. Sehingga mereka ikut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

    Lewat program ini, Unpad juga mendekatkan proses pembelajaran ke daerah. Diupayakan program ini mendapat ikatan dari dinas atau pemerintah daerah setempat maupun perusahan-perusahaan daerah dalam bentuk beasiswa, sehingga ketika lulus mereka bisa langsung mengabdi di daerah.

    Menurut Tri, program tersebut berlaku untuk semua fakultas termasuk pertanian. Jika Dinas Pertanian suatu kabupaten/kota kekurangan insinyur atau penyuluh pertanian, mereka bisa menyekolahkan anak buahnya dengan mengikuti program Unpad Nyaah Ka Jabar.

    “Program Unpad Nyaah Ka Jabar untuk seluruh fakultas sudah kami lakukan,” ujarnya.

    Disinggung mengenai jumlah mahasiswa pertanian di Unpad, berkat program tersebut sudah mulai terjadi pengingkatan. “Itu sudah mulai naik. Daya tariknya mulai meningkat,” ungkap Tri Hanggono Achmad.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here