More

    Berbekal Gelar PhD dari Australia, Simon Dirikan Start-Up di Indonesia

    AUSTRALIA PLUS
    Nurina Savitri

    Mengawali karir sebagai akademisi, Simon memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis 12 tahun setelah menyelesaikan studi doktoral di Australia. Ia memulai usaha start-up di bidang pemeriksaan genetika.

    Simon adalah mantan akdemisi dan pekerja industri yang kini beralih ke dunia wirausaha.
    Simon adalah mantan akdemisi dan pekerja industri yang kini beralih ke dunia wirausaha.

    “Sebelum saya kuliah PhD di Australia, saya tidak pernah terpikir untuk terjun ke bisnis. Malah dulu saya selalu merasa tak punya kemampuan berbisnis, karena latar belakang keilmuan saya,” tutur Simon saat berbincang dengan Nurina Savitri dari Australia Plus.

    - Advertisement -

    Simon adalah lulusan pasca sarjana di Universitas Wollongong dan meraih gelar doktoral di bidang psikologi dari Universitas Melbourne pada tahun 2004.

    Ia baru saja mengawali lembaran baru di bidang karir dengan terjun ke dunia entrepreneurship di awal tahun 2016, setelah menggeluti bidang akademik dan industri selama belasan tahun.

    Menjadi pebisnis bukanlah cita-cita yang ia bangun sejak kecil. Ketertarikannya pada bidang ini bermula ketika ia bekerja di industri kesehatan.

    “Saya lupa kapan persisnya titik balik itu terjadi. Hanya saja saya selalu merasa saya nggak punya business acumen (naluri bisnis). Tapi ketika saya kerja di Siloam (rumah sakit), mereka punya program kuliah untuk karyawan. Jadi saya ambil kesempatan itu untuk kuliah program MBA (bisnis) di UGM,” cerita pria yang memiliki nama Tionghoa Wong Liong Ciang ini.

    Ia lantas mengatakan, “Nah mungkin dari situlah ketertarikan saya dalam dunia bisnis makin menjadi. Apalagi, setelah itu saya bekerja di perusahaan lain sebagai direktur pengembangan bisnis dan direktur sumber daya manusia.”

    “Sebagai direktur bisnis, mungkin saya banyak bersentuhan dengan aspek-aspek bisnis, orang-orang yang mau membuka bisnis. Makin lama saya makin tertarik,” ungkap Simon yang menggemari olahraga luar ruang ini.

    Ketika ditanya mengenai perjalanan akademis yang ditempuhnya dan jalur karir yang ia pilih saat ini, Simon mengatakan kondisi itu sah-sah saja dan justru saling mendukung.

    Simon membawa keluarganya saat studi di Australia.
    Simon membawa keluarganya saat studi di Australia.

    “Terus terang saya punya beberapa komentar tentang hal ini. Pertama, ini adalah soal menantang diri saya melakukan hal yang lebih. Jujur saja, perjalanan meraih gelar doktoral itu bukan untuk semua orang, karena itu perjalanan yang sangat sulit,” ungkapnya.

    Simon melanjutkan, “Tapi itu lantas membuat kita jadi berdaya, jadi disiplin untuk menggali sesuatu sebelum memutuskan, dan membuat saya percaya diri. Semangat itu membantu saya dalam dunia bisnis ini sekarang.”

    Menurutnya, studi doktoral bukan hanya diperlukan untuk bidang akademik. Ia lantas mencontohkan program S3 di luar Indonesia.

    “Di luar negeri, ada yang namanya professional doctorate. Di program ini, mahasiswa disiapkan untuk mendapat pelatihan, mendapat pengalaman sebagai calon doctor, tapi di saat yang bersamaan pula, mereka disiapkan untuk menjadi lebih aplikatif,” terangnya.

    “Saya sendiri menjalani program doktoral tradisional. Pengetahuan itu saya dapat seiring dengan pengalaman saya selama belajar di sana (Australia),” imbuhnya.

    Ia lalu menyahut, “Tapi jangan salah dipersepsi ya, nanti ada yang bilang kalau mau jadi entrepreneur harus jadi doktor, maksud saya tidak begitu juga.”

    Simon lantas membagi kisahnya tentang bisnis yang baru digelutinya.

    “Saya sekarang murni mengurusi bisnis yang merupakan usaha bersama antara pemilik perusahaan tempat saya terakhir bekerja dengan saya. Ini adalah start-up di bidang pemeriksaan genetika, Terus terang usaha saya sekarang belum besar, kami masih start up. Kami baru mulai merintis sejak Februari 2016, baru 6 bulan.”

    Bagi pria asal Kalimantan Timur ini, jaringan (network) adalah modal penting yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pebisnis.

    “Menurut pengalaman saya, untuk bisa menjadi seorang pebisnis, anda memerlukan network. Itu yang paling penting. Apalagi sekarang ini adalah era networking, jika anda ingin sukses dalam bidang pekerjaan.”

    Ia kemudian menceritakan pengalaman pribadinya.

    “Karena saya memiliki jaringan, akhirnya kenal sana sini, saya tahu sana sini, saya melihat kesempatan sana sini yang membuat saya kemudian berani untuk terjun ke dunia bisnis. Bahkan dalam bisnis saya ini saya bisa membuat beberapa network dengan beberapa perusahaan asing, saya bisa membuat network dengan seorang profesor dari Singapura.”

    “Dari mana? Ya saya dikenalkan oleh seseorang yang saya kenal. Terus saya kenal ahli farmakogenetika dari University of Sydney, saya kenal dari Australia Awards. Semuanya saling berhubungan. Jadi menurut saya, networking itu hal yang paling penting,” ujarnya memberi tips kepada calon pebisnis. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here