More
    Home RUPA SOSOK Perjalanan Sunday Screen, dari Kampus Terjun ke Kampung

    Perjalanan Sunday Screen, dari Kampus Terjun ke Kampung

    IMAN HERDIANA

    Di ranah film atau video, komunitas ini sudah tidak asing. Namanya dikenal di kampung-kampung, perwakilan anggota-anggotanya diundang ke luar negeri. Ya, mereka adalah Sunday Screen.

    Dokumentasi poster kegiatan Village Video Festival yang digagas Sunday Screen.
    Dokumentasi poster kegiatan Village Video Festival yang digagas Sunday Screen.

    Komunitas video ini lahir di kampus kemudian besar di kampung-kampung. Didirikan oleh mahasiswa jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) akhir 2008. Mereka sama-sama gemar bikin video dan yakin melalui video bisa mengusung sekaligus mengantisipai perubahan sosial.

    Yopie Nugrara, salah seorang pendiri Sunday Screen, menuturkan, Sunday Screen didirikan di Bandung oleh delapan orang mahasiswa Jurnalistik Unisba, yaitu Yopie sendiri, Ismal Muntaha, Shinta Widyana, Carda Arifin, Yuda Samakta, Bagus Nugroho, M Faizur Rahman, Rangga Aditiawan.

    Sunday Screen mengawali proyek panjangnya, turun dari menara gading kampus menuju Desa Jatisura di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Event pertama mereka adalah Village Film Festival (VFF) 2009. Waktu itu mereka masih sibuk kuliah.

    Jatiwangi, sebuah kecamatan penghasil genteng terbesar di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara, menjadi proyek panjang Sunday Screen. Sejak 2009, komunitas ini bekerja sama dengan Jatiwangi Art Factory, komunitas seni Jatiwangi, untuk pendampingan warga lewat serangkaian festival.

    “Awalnya kita membawa medium video untuk membuat festival film tentang keseharian warga Jatiwangi, yang mereka kerjakan sehari-hari,” tutur Yopie Nugraha saat diskusi acara Jungkir Balik 2016 berjudul Videography: Village Video Festival (VVF), di Kafe Kaka, Jalan Tirtayasa 49 Bandung, Jumat (30/12/2016).

    Untuk membuat festival, anggota-anggota Sunday Screen tinggal selama dua minggu di rumah-rumah warga dan markas JAF. Mereka berkolaborasi dengan warga dan nonton bareng hasil kolaborasi itu. Nonton bareng kerap dilakukan dengan layar tancap. “Sekalian nostalgia,” ucap alumnus Jurnalistik Fikom Unisba 2005.

    Yopie Nugraha, salah satu pendiri Sunday Screen. Selain dunia video juga menyenangi traveling dan camping. FOTO : dokumentasi pribadi
    Yopie Nugraha, salah satu pendiri Sunday Screen. Selain dunia video juga menyenangi traveling dan camping. FOTO : dokumentasi pribadi

    Festival tahun berikutnya, 2010, mereka mendatangkan peserta dari Inggris, Jepang, Taiwan, Brazil. Peserta residensi tinggal dua minggu di empat desa Kecamatan Jatiwangi. Peserta residensi membaur dengan warga sambil mengajari membuat video.

    Kecamatan Jatiwangi memiliki 16 desa. Hingga kini sudah ada enam desa yang disasar festival, yakni Desa Jatisura, Leuweunggede, Andir, Loji, Burujul Wetan dan Sukaraja Wetan.

    Untuk menampung video warga, Sunday Screen dan JAF membentuk media center. Desa desa yang sudah disasar mengirimkan video ke media center. Video juga menjadi media presentasi warga bagi orang luar yang datang ke Jatiwangi.

    Pada 2011, format festival berubah dari VFF menjadi Village Video Festival (VVF). Medium video dinilai lebih pupuler dibanding film, siapa pun bisa membuat video di zaman gadget ini. Beda dengan film yang proses pembuatannya panjang dan rumit.

    Tahun itu pula Sunday Screen lebih fokus pada partisipasi warga. Warga digiatkan untuk membuat video dokumenter maupun fiksi terkait tema tentang Jatiwangi, tentang kehidupan mereka, budayanya, mata pencahariannya, dan nilai-nilai lokal lainnya.

    Di Jatiwangi kemudian berhasil dibangun JAF TV. Setiap video yang ditampung di media center, ditayangkan tv komunitas ini. JAF TV tayang tiap sore, menjadi tv alternatif bagi warga Jatiwangi yang cuma bisa mengakses tiga channel televisi siaran nasional.

    “Jadinya tiap warga nonton acara tetangganya sendiri,” katanya.

    Pada 2013, perubahan di Jatiwangi mulai terasa. Ini akibat pembangunan infrastruktur besar-besaran di Majalengka. Waktu itu mulai dibangun jalan tol, mal-mal, pabrik-pabrik, bandara internasional, bendungan. Warga Jatiwangi resah.

    “Banyak mobil keruk dan truk di sekitar rumah warga. Maka video mengintip Jatiwangi yang baru,” katanya.

    Tahun tersebut, Sunday Screen kembali menggelar VVF dengan tema “Curi Pandang”. Di tengah perubahan, cukup sulit mengajak partisipasi warga. Di satu sisi, warga menghadapi penggusuran, sawah dan ladang harus ditanami, banyak pemuda desa yang meninggalkan pekerjaan membuat genteng dan pertanian untuk memilih kerja di pabrik atau ke kota.

    Sunday Screen bersama warga Jatiwangi dan seniman usai penyelenggaraan Village Video Festival 2016. FOTO : SUNDAY SCREEN
    Sunday Screen bersama warga Jatiwangi dan seniman usai penyelenggaraan Village Video Festival 2016. FOTO : SUNDAY SCREEN

    Di sisi lain, kebudayaan harus tetap jalan. VVF 2013 pun digelar. Pada saat bersamaan, Majalengka semakin diminati investor dari ibu kota. Arus informasi semakin deras mengubah gaya hidup warga desa.

    Antara 2014-2015, perubahan di Jatiwangi semakin nyata. Saban hari, jalan nasional yang melintasi Jatiwangi penuh dengan hilir-mudik truk-truk pembangunan. Masyarakat Jatiwangi menyambut perubahan itu lewat VVF 2014 dan 2015.

    Maka digelar pasar malam di berbagai desa secara giliran. Barang yang dipamerkan berupa benda-benda visual agak satir, antara lain ada pasar malam yang membuka Toko Jual Diri, berisi gambar-gambar bergerak yang merekam kehidupan Jatiwangi.

    “Perubahan terjadi di Jatiwangi, kita tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah perubahan itu, kita hanya bisa mengajak warga berkonsolidasi dengan video, tentang cita-cita mereka, aspirasi, dan apa yang mereka inginkan,” timpal Rangga Aditiawan, pendiri Sunday Screen lainnya.

    Pada 2016 kemarin, VVF mengangkat tema “Ke Rumah”, bahwa segala sesuatu dimulai dari rumah. Video yang dihimpun mengorek interaksi di rumah-rumah warga.

    Setiap festival, video yang terkumpul rata-rata 50 video. Video ini diharapkan menjadi arsip warga yang membangkitkan kebanggaan warga Jatiwangi dalam menghadapi perubahan.

    “Perubahan memang tak bisa dibendung. Tapi yang penting kita menyiapkan warganya, jangan sampai warga menjadi tamu di daerahnya sendiri. Kita punya daya tawar kalau ada perusahaan asing masuk. Orang makin percaya diri dengan ide-ide dan identitasnya,” ungkap Yopie.

    Festival demi festival yang digelar para anggota Sunday Screen sudah berjalan delapan tahun. Mereka melakukannya di sela kuliah. Kini, kuliah mereka sudah selesai, sebagian ada yang kerja, juga berumah tangga. Tapi masih banyak festival-festival lain yang harus disiapkan. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here