More
    HomeRUPAREKTORRektor UPI : Bisakah Gaji Dosen Indonesia, Sama dengan Asing?

    Rektor UPI : Bisakah Gaji Dosen Indonesia, Sama dengan Asing?

    Ilustrasi / Foto. Edubilla.com

    BANDUNG, KabarKampus – Penghasilan dosen asing dan dosen Indonesia memiliki rentang yang cukup jauh. Begitu pun saat dosen asing tersebut didatangkan ke Indonesia sebagai tenaga pengajar.

    Bahkan Ali Gufron, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti menyebut penghasilan dosen asing dimungkinkan mencapai 52 Juta rupiah per bulan. Angka tersebut merupakan angka maksimal. Karena sekitar 30 dosen asing yang mengajar di Indonesia penghasilan mereka biasanya 20 Juta per bulan.

    Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. H. R. Asep Kadarohman, M.Si., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, dosen asing biasanya memiliki fokus dalam bekerja. Itu karena kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.

    - Advertisement -

    “Tapi ketika mereka mengajar di Indonesia, saya ngga tahu apakah dosen asing tersebut bisa diberi gaji yang sama dengan dosen kita,” kata Prof Asep Kadarohman kepada KabarKampus, Rabu, (18/04/2018).

    Namun Prof Asep melihat, dosen memang harus bekerja dengan fokus. Karena bila tidak fokus tidak ada pekerjaan yang bisa tuntas dengan baik.

    Oleh karena itu Prof Asep justru bertanya, apakah mungkin dosen di Indonesia bisa memiliki penghasilan sama dengan dosen asing. Hal ini cukup menarik, karena dosen memang harus bekerja dengan fokus.

    Prof Asep mencotohkan, banyak dosen Indonesia yang memiliki kualitas saat studi ke luar negeri. Namun setelah pulang ke Indonesia, dia tidak bisa konsetrasi. Itu semua karena perbedaan gaji antara gaji dosen di luar negeri dan di Indonesia.

    Tapi terlepas dari soal penghasil dosen asing tersebut, Prof Asep mengungkapkan, Indonesia perlu mendatangkan dosen asing ke Indonesia. Hal itu agar mereka bisa menularkan budaya sains ke Indonesia.

    Menurutnya, dengan adanya dosen asing, Indonesia dapat melakukan percepatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun yang penting adalah, adanya seleksi yang baik terhadap dosen asing yang ingin mengajar di Indonesia.

    “Hal itu karena pendidikan adalah alat yang ampuh untuk mengubah mindset. Bila mindsetnya tidak sama dengan mindset kebangsaan Indonesia, dia akan mempromosikan disintegrasi. Jadi kuncinya adalah selektifitas,” ungkap Prof Asep.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here