More

    Kampus Diminta Segera Teliti Kina untuk Obat Korona

    *Foto publikasi penelitian virus Covid-19 oleh State Key Laboratory of Virology, Wuhan Institute of Virology, Center for Biosafety Mega-Science, Chinese Academy of Sciences,  Wuhan, China, di jurnal Cell Research

    BANDUNG, KabarKampus – Kina mungkin menjadi harapan baru di tengah wabah virus korona Covid-19. Senyawa dalam kina dinyatakan mampu membendung infeksi akibat virus pneumonia baru tersebut. Para peneliti dari kampus di Indonesia pun ditantang untuk ikut meneliti kina.

    Harapan pada kina awalnya muncul dari publikasi para peneliti dari State Key Laboratory of Virology, Wuhan Institute of Virology, Center for Biosafety Mega-Science, Chinese Academy of Sciences,  Wuhan, China, dalam jurnal Cell Research, baru-baru ini.

    Jurnal yang cukup ringkas itu menyebut, peneliti meneliti efisiensi antivirus dari lima obat yang disetujui FAD (Organisasi Obat Dunia), di antaranya chloroquine yang merupakan senyawa dalam kina dan dua obat antivirus remdesivir. Namun penelitian ini baru tahap in vitro atau kultur sel.

    - Advertisement -

    Peneliti mengukur efek dari senyawa obat-obatan pada tingkat sitotoksisitas akibat virus dan infeksi 2019-nCoV atau Covid-19. Dari lima obat yang diteliti, peneliti merekomendasikan dua obat saja yang dinilai efektif membendung infeksi, yaitu remdesivir dan chloroquine. Peneliti berharap penelitian ini maju ke tahap berikutnya secara in vivo atau uji coba pada makhluk hidup.

    Remdesivir sendiri baru-baru ini diakui sebagai obat antivirus yang terhadap beragam virus RNA (termasuk SARS/MERS-CoV5), juga sedang dalam pengembangan klinis untuk pengobatan infeksi virus Ebola, demikian kata peneliti.

    Sedangkan chloroquine selama ini dikenal sebagai obat anti-malaria dan autoimun. “Obat ini kemudian dilaporkan sebagai obat antivirus spektrum luas yang potensial. Chloroquine diketahui bisa menghambat infeksi virus terhasap sel, juga mampu mengganggu reseptor SARS-CoV,” sebut peneliti.

    Chloroquine juga disebut mampu meningkatkan daya tahan tubuh yang mendorong efek kinerja antivirusnya. Chloroquine diminum secara oral, lalu didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh, termasuk paru-paru.

    Menurut peneliti, chloroquine adalah obat yang murah dan aman yang telah digunakan selama lebih dari 70 tahun dan berpotensi secara klinis memerangi 2019-nCoV.

    Peneliti menyimpulkan bahwa remdesivir dan chloroquine sangat efektif dalam pengendalian infeksi 2019-nCoV secara in vitro. Kesimpulan penelitian ini didukung rekam jejak dua senyawa tersebut yang telah terbukti efektif melawan berbagai penyakit.

    Penelitian dari Wuhan tersebut mendapat dukungan dari profesor di Emerging Pathogens Institute, Florida, John Lednicky, yang menilai data yang disajikan dalam penelitian para peneliti China tentang chloroquine tampaknya dapat digunakan sebagai obat tahap awal untuk virus korona. Walaupun penelitian mereka masih secara in vitro.

    Lednicky berharap uji coba terhadap kemampuan chloroquine terus dilakukan, sehingga hasilnya bisa lebih banyak lagi dalam mendukung penelitian semula. “Akan sangat baik jika jenis percobaan ini diulangi oleh lebih banyak laboratorium untuk melihat apakah hasil yang sama terjadi di seluruh penelitian,” kata John Lednicky, dikutip dari ASBMB Today.

    Di Indonesia, penemuan tersebut juga bikin gegar. Apalagi Indonesia termasuk negara yang bergelut dengan korona. Sementara pohon kina merupakan tanaman yang tumbuh subur di Indonesia, di antaranya di sejumlah daerah di Jawa Barat.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahkan meminta peneliti di kampus-kampus untuk melakukan riset terhadap kandungan kina. Ia menyebut, hasil penelitian di China menyebut ekstrak chloroquine efektif menghambat pertumbuhan dan memblokade infeksi dari virus korona.

    Mantan Wali Kota Bandung tersebut mengaku sudah berdiskusi dengan farmakolog Universitas Padjadjaran (Unpad), Profesor Keri Lestari, mengenai kandungan dalam kina. Disebutkan bahwa Keri setuju dengan penelitian dari China tentang kina yang ampuh mengatasi penyebaran virus korona dalam tubuh manusia, selain sebagai obat malaria.

    Ridwan Kamil berharap banyak pada perguruan tinggi khususnya di Jawa Barat untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kandungan dalam kina sebagai obat Covid-19.

    Terlebih pohon kina sudah ditanam di Jawa Barat sejak zaman kolonial Belanda, di antaranya di kawasan Jayagiri Lembang, Kabupaten Bandung Barat dengan ikonnya Taman Junghun, di Bukti Unggul Cilengkrang, Kabupaten Bandung sekitar seluas 735 hektare, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, dan kawasan Subang. Saat ini kina dikelola dua institusi yakni PT Kimia Farma dan PTPN VIII.

    “Kloroquin fosfat (chloroquine) yang dalam bahasa awamnya adalah obat kina memang dari zaman kolonial ditanamnya di Jabar,” kata Ridwan Kamil, di Gedung Sate, Bandung, Kamis (12/3/2020).

    Mengenai potensi kina ini, Ridwan Kamil mengaku sudah menyampaikan ke Kementerian Kesehatan. “Sudah saya sampaikan tadi malam ke Kemenkes dan mereka mengonfirmasi bahwa kloroquin fosfat punya bukti dan punya potensi luar biasa hanya belum jadi mainstream maka saya imbau universitas di Jabar salah satunya Unpad untuk lebih meyakinkan lagi dengan bukti-bukti empirik bahwa kloroquin fosfat bisa kita jadikan sebagai obat,” paparnya. []


    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here