More
    Home UTAMA OPINI Lompatan Kausalitas dalam Perspektif Logika Modalitas

    Lompatan Kausalitas dalam Perspektif Logika Modalitas

    Photo: Ceramic by Peter Voulkos, USA

    1/

    Puisi bukan cuma ketepatan soal semantik dalam diksi. Namun, hal itu terkait pula soal bagaimana seorang penyair meletakkan diksi dalam koherensinya dengan gita-puitik, lukisan-puitik, dan pendalaman-tematik pada satu sintaksis puitik secara presisif. Jika simetri dari empat unsur itu sudah terbentuk, barulah Anda mungkin mencipta “cacat artistik”, tanpa merusak simetrinya. Itulah maknanya invensi atau inovasi dalam puisi. Jika tidak, maka puisi-puisi yang Anda tulis hanya akan jadi silogisme yang tepat, tapi tak berjiwa. Tidak hidup.

    Namun, andai kita mau bicara soal ketepatan semantik dalam diksi, berarti kita akan bicara perihal koherensi antarmakna dan atau korespondensi dengan fakta, dan itu artinya kita bicara soal simetri dalam sintaksis puitik. Bicara soal simetri, terutama dalam konteks sintaksis puitik, bisa juga didekati dengan konsep “relasi” pada teori himpunan. Mari kita lihat bagaimana relasi itu terbentuk dalam konteks logika modalitas, logika yang hendak mengukur ketepatan “makna” satu proposisi dengan dua operator: ‘mungkin’ dan ‘niscaya’.

    Ada sembilan relasi dalam aksioma logika modalitas (“□” simbol untuk operator “niscaya” dan “◇” simbol untuk operator “mungkin”), yaitu:

    (D): □A→◊A, ∃u wRu, Relasi Serial;
    (M): □A→A, wRw, Relasi Refleksif;
    (4): □A→□□A, (wRv & vRu) ⇒ wRu, Relasi Transitif;
    (B): A→□◊A, wRv ⇒ vRw, Relasi Simetris;
    (5): ◊A→□◊A, (wRv & wRu) ⇒ vRu, Relasi Euclidis;
    (CD): ◊A→□A, (wRv & wRu) ⇒ v=u, Relasi Fungsional;
    (□M): □(□A→A), wRv ⇒ vRv, Relasi Pergeseran Refleksif;
    (C4): □□A→□A, wRv ⇒ ∃u(wRu & uRv), Relasi Pekat;
    (C): ◊□A → □◊A, wRv & wRx ⇒ ∃u(vRu & xRu), Relasi Konvergen.

    Berikut ini beberapa prinsip dasar dari logika modalitas yang dirumuskan oleh C. Lewis dan Lukasiewicz ke dalam logika simbolis (matematis):

    1) Jika suatu hal itu niscaya (necessarily), maka hal tersebut berarti harus jadi mungkin (possibly).

    2) Jika suatu hal itu niscaya, maka hal tersebut berarti tidak mustahil.

    3) Jika suatu hal itu mustahil, maka hal tersebut secara niscaya salah.

    4) Jika suatu hal secara niscaya salah, maka hal tersebut berarti mustahil.

    5) Jika suatu hal diniscayakan oleh hal yang secara niscaya benar, hal tersebut benar secara niscaya.

    6) Segala yang niscaya adalah benar-benar faktual atau benar-benar mungkin.

    Sekarang, jika Anda mau dan paham soal logika modalitas, maka silakan buktikan hipotesis di atas dengan menguji, misalnya, puisi-puisi modern atau kontemporer dunia. Sebagai contoh Anda bisa menguji—dalam konteks ketepatan makna sintaksis puitik dengan menggunakan logika modalitas—suatu puisi “dadaisme” karya Shinkichi Takahashi (1901 – 1987), seorang penyair dadaisme dan sekaligus pendeta Zen di Jepang, berikut ini:

    WAKTU

    Waktu seolah angin danau
    Menyentuh wajahnya,
    Segala renungan meninggalkan pikirannya.

    Suatu pagi matahari, yang mengancam,
    Terbit dari punggung gunung,
    Menghanguskan pohonan—seperti harapan.

    Sepenuhnya terjaga, ia nyalakan pipa
    Dan seolah matahari tengah menghela napasnya
    Waktu tercurah—seperti hujan, seperti buah-buahan.

    Ia menoleh ke belakang dan melihat kapal itu
    Tengah berlayar menuju masa lalu. Dengan satu tangan
    Ia mencengkeram layar keabadian,

    Dan memasukkan seluruh semesta ke dalam matanya.

    2/

    Sekarang, bisakah Anda membedakan antara “relasi serial” dengan “relasi transitif” dalam konteks logika modern? Bila belum bisa, maka janganlah Anda tergesa bicara perihal kekeliruan “lompatan kausalitas” dalam implikasi material. Sebab, andai begitu, jelas sekali pola pikir Anda masih terpaku pada pola implikasi material dalam bentuk relasi serial dari Aristoteles, Berikut saya formalisasikan relasi serial tersebut dalam rumusan aksioma logika modalitas:

    (1) □A→◊A, ∃u wRu, Relasi Serial.

    Bila Anda beranggapan yang dimaksud dengan lompatan kausalitas adalah ketiadaan relasi dalam satu proposisi yang menggunakan operator implikasi material, maka sudah jelas proposisi tersebut taklah bisa dikatakan sebagai proposisi implikasi material, atau, dengan kata lain, anggapan Anda itu terbukti keliru. Yang dimaksud dengan lompatan kausalitas sebenarnya bukanlah ketiadaan relasi implikatif, melainkan satu proposisi implikatif yang menggunakan bentuk “relasi transitif”. Misal: “jika w memiliki relasi dengan v” dan “v memiliki relasi dengan u”, maka “w memiliki relasi dengan u”. Bila hendak dirumuskan dalam bentuk logika modalitas, maka bisa ditulis seperti berikut ini:

    (2) □A→□□A, (wRv & vRu) ⇒ wRu, Relasi Transitif.

    Ketika Anda mencoba memahami satu proposisi (pada cerita yang berbentuk prosa atau puisi atau drama) yang seolah tak memiliki hubungan sebab-akibat–karena disusun dengan struktur lompatan kausalitas–misalnya “wRu” (seperti contoh pada aksioma relasi transitif di atas), maka jangan langsung buru-buru menyatakan proposisi itu tak memiliki relasi kausalitas, mengandung unsur “ke-tiba-tiba-an” atau ketidaklogisan dalam konteks implikasi material, oleh sebab Anda hanya memahami kausalitas dalam bentuk relasi serial. Yang mesti Anda lakukan, selain bersabar tentunya, adalah mencoba menelisik apakah proposisi itu mengandung relasi transitif atau tidak. Anda harus mencari proposisi anteseden (wRv & vRu) pada relasi transitif di dalam struktur teks yang Anda baca agar Anda benar-benar bisa memahami bahwa proposisi di dalam konsekuen (wRu) memang memiliki relasi kausalitas. Bisa jadi dalam teks prosa atau puisi atau drama modern, algoritma dari anteseden (wRv & vRu) tidak diletakkan di depan konsekuennya, tetapi di belakang atau di tengah, seperti struktur plot “in medias res” atau cerita-cerita realisme magis.

    Nah, kalau Anda masih penasaran coba buktikan hipotesis saya di atas dengan menonton film Birdman (2014) karya sutradara Alejandro Gonzalez Inarritu, atau baca puisi-puisi hiperteks dengan teknik “anakoluton” karya John Ashberry, atau baca novel gaya infrarealismo berjudul “The Savage Detectives” karya sastrawan Meksiko Reberto Belano. Namun, bila Anda mau mencoba sekarang (sebagai latihan berpikir), maka silakan pecahan relasi transitif dalam puisi surealis karya Pablo Neruda–penyair Chili peraih Nobel Sastra 1971–yang telah saya terjemahkan berikut ini:

    KESATUAN

    Ada sesuatu yang padat, bersatu, menetap di kedalaman,
    terus mengulangi jumlahnya, tanda yang identik.
    Perhatikan bagaimana batu-batu telah menyentuh waktu,
    dalam masalah halus mereka ada tercium bau usia,
    air yang membawa laut, garam dan tidur.

    Aku dikelilingi satu hal, satu gerakan:
    mineral berat, madu cahaya,
    melekat pada suara dari kata “malam”:
    tinta gandum, gading, dan air mata,
    aneka barang dari kulit, dari kayu, dari wol,
    kuno, pudar, seragam,
    berkumpul di sekitarku seperti dinding.

    Aku terus bekerja, terus melampaui diriku,
    seperti gagak melampaui kematian, gagak berkabung.
    Merenung, terisolasi dalam pergantian musim,
    tepusat, dikelilingi oleh geometri senyap:
    suhu parsial melayang turun dari langit,
    semacam kerajaan dari kesatuan aneh ini
    mendadak mengepung diriku.

    ——————————————–

    Versi asli puisi ini (dalam Bahasa Spanyol):

    UNIDAD

    Hay algo denso, unido, sentado en el fondo,
    repitiendo su número, su señal idéntica.
    Cómo se nota que las piedras han tocado el tiempo,
    en su fina materia hay olor a edad,
    y el agua que trae el mar, de sal y sueño.

    Me rodea una misma cosa, un solo movimiento:
    el peso del mineral, la luz de la miel,
    se pegan al sonido de la palabra noche:
    la tinta del trigo, del marfil, del llanto,
    envejecidas, desteñidas, uniformes,
    se unen en torno a mí como paredes.

    Trabajo sordamente, girando sobre mí mismo,
    como el cuervo sobre la muerte, el cuervo de luto.
    Pienso, aislado en lo extremo de las estaciones,
    central, rodeado de geografía silenciosa:
    una temperatura parcial cae del cielo,
    un extremo imperio de confusas unidades
    se reúne rodeándome.

    ———————————————-

    Terakhir, sebelum menutup esai ini, saya menyatakan bahwa seorang sastrawan kontemporer, yang hendak menuliskan teks sastra avant garde misalnya, harus paham dulu logika modern dan linguistik. Ada sering kesalahpahaman dari penulis sastra di sini yang menganggap pemahaman soal linguistik adalah semata soal gramatika. Itu pemahaman yang keliru. Linguistik modern adalah perluasan dari ilmu logika, sangat terhubung dengan logika modern, bahkan sangat logis. Misalnya, bicara soal semantik, bukan cuma bicara soal makna kata di kamus, tetapi terkait dengan makna sintaksis. Bicara soal sintaksis, maka berarti kita bicara soal proposisi–terutama proposisi dalam logika modern seperti kalkulus predikat, logika intuisionalistik, logika modalitas, hingga logika parakonsistensi.

    Teks sastra avant garde harus sangat “simetris” secara linguistik dan logika, baru setelah itu dibocorkan, dibengkokkan, disimpangkan atau dibuat asimetrinya tanpa merusak simetrinya. Saya belajar soal simetri artistik ini justru setelah saya memahami konsep wabi-sabi dalam seni keramik kontemporer Jepang. Sebagai contoh, Anda bisa menonton film dokumenter yang saya cantumkan dalam komentar pertama status ini tentang keluarga seniman keramik bergaya Karatsu, Nakazato Taki. Anda bisa menonton pada menit 2.18 – 2.58 ketika Nakazato Taki membuat cawan keramik dengan sangat presisif, bahkan sampai mengukur diameter cawan secara tepat, untuk kemudian ditekuk atau dibuat “cacat artistiknya”. Jadi asimetri atau cacat artistik itu tidak bisa dilakukan tanpa kesadaran, tanpa simetri, karena bila begitu yang terjadi hanyalah keisengan dan atau kengawuran dalam seni.

    Dengan kata lain, makin kompleks sebuah teks atau karya seni, maka harus makin logis. Itulah paradoks dari teks atau karya seni kontemporer. Tak ada tempat untuk kengawuran di dalam karya seni kontemporer.

    ——————————————————-
    Esai @ Ahmad Yulden Erwin, Januari 2017
    ——————————————————-

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here