More
    Home UTAMA OPINI Ulah Elit Global atau Bukan, Pandemi Tetap Bebahaya!

    Ulah Elit Global atau Bukan, Pandemi Tetap Bebahaya!

    Oleh : Raden Muhammad Wisnu Permana*

    Saya ingat betul, ketika pemerintah Indonesia mengumumkan pasien pertama Covid-19 resmi terkonfirmasi di Indonesia. Sejak saat itu, ribuan masyarakat menyerbu pusat perbelanjaan untuk memborong masker medis, hand sanitizer, hingga sembako. Bahkan kepanikan ini membuat para tenaga kesehatan kesulitan mendapatkan masker medis, karena banyak oknum penimbun masker yang berusaha mencari keuntungan dalam kesempitan.

    Kepanikan masyarakat semakin menjadi-jadi karena pada awal pandemi, banyak beredar video warga Wuhan yang tiba -tiba pingsan dan tergeletak di tengah jalan. Mereka diduga akibat serangan virus corona tersebut.

    Setelah dikonfirmasi, ternyata warga Wuhan yang pingsan dan tergeletak di tengah jalan tersebut hanya berpura-pura agar dapat menyerobot antrian yang terjadi di rumah sakit setempat. Para public figure, tenaga kesehatan hingga pemerintah memberikan edukasi yang masif kepada masyarakat tentang pentingnya memakai masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. Tentu kita sudah paham semua ini karena secara masif selalu disampaikan pada masyarakat lewat media massa, spanduk, maupun media sosial.

    Memasuki bulan Desember 2020, justru semakin banyak masyarakat yang tidak takut dengan virus corona ini. Kuantitas masyarakat yang memakai masker, mencuci tangan, dan jaga jarak semakin menurun.

    Alasannya? Mulai dari bosan, alasan ekonomi, hingga berpikiran bahwa virus ini adalah buatan seperti yang diceritakan dalam film fiksi ilmiah, bahkan ada yang menganggap virus ini tidak berbahaya sama sekali karena tingkat kematian yang sangat kecil dibandingkan penyakit lainnya.

    Banyak juga yang berpikiran bahwa jika kita tidak memiliki penyakit bawaan seperti asma, maag, asam urat, diabetes, dan penyakit lainnya, maka mereka akan kebal dengan virus ini. Ada anggapan gejala itu sama seperti inlfuenza atau flu dan demam biasa yang dapat sembuth dalam 3-4 hari dengan sendirinya.

    Suatu fenomena aneh sedang terjadi di masyarakat dunia saat ini. Ketika ada seseorang yang mengalami patah tulang karena kecelakaan, mereka sadar, alih-alih mempercayai seorang dukun yang mengklaim dapat menyembuhkan patah tulang tersebut, orang akan segera pergi ke dokter spesialis tulang untuk mendapatkan tindakan medis untuk kesembuhannya. Mereka sadar bahwa dukun tersebut tidak sekolah kedokteran selama bertahun-tahun. Tapi dalam hal pandemi COVID-19, mereka sama sekali tidak mempercayai para dokter yang bahkan sudah puluhan tahun sekolah dan praktik ilmu kedokteran hingga memiliki gelar Profesor, yang jelas-jelas bilang bahwa pandemi ini berbahaya. Sungguh fenomena yang aneh.

    Mereka berpikiran bahwa media massa, WHO, atau pemerintah dunia terlalu melebih-lebihkan pandemi ini karena ternyata virus corona tidak lebih berbahaya dari penyakit tubercolosis atau lebih dikenal dengan TBC yang persentase kematiannya jauh lebih besar daripada virus corona. Mereka menuduh bahwa ini akal-akalan elit global untuk menguntungkan industri farmasi dan vaksin karena jika uji klinis vaksin sudah selesai, maka vaksin tersebut akan diproduksi dan didistribusikan secara masal kepada seluruh masyarakat dunia, dan tentu saja akan menguntungkan pihak-pihak tersebut.

    Hal ini juga dikuatkan dengan bukti bahwa, ribuan orang yang demo saat penolakan UU Cipta Kerja beberapa bulan yang lalu, maupun ribuan orang yang ikut meyambut Habib Ririeq Shihab dan sejumlah acara yang digelarnya, tidak ada yang meninggal. Beberapa diantaranya hanya positif COVID-19 tanpa ada gejala sama sekali dan hanya menjalani isolasi mandiri saja, termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang mengikuti rangkaian acara tersebut.

    Namun, meskipun tidak ada yang dikonformasi meninggal, setidaknya sampai tulisan ini diterbitkan, kita tidak bisa menyimpulkan seperti itu. Karena faktanya, rumah sakit rukukan COVID-19 ini jadi penuh dan para petugas medis jadi kerja ekstra keras karena harus terus melayani pasien yang mengalami gejala parah akibat virus tersebut. Ini yang harus menjadi perhatian kita bersama. Tunjukanlah empati kepada petugas medis yang sedang berjuang tersebut.

    Bisnis Farmasi?

    Memang benar, sebagai seorang yang pernah bekerja di rumah sakit, saya paham betul bahwa rumah sakit, industri farmasi dan vaksin adalah bisnis. Sama seperti industri otomotif ataupun industri garmen. Namun yang harus mereka pahami adalah, meskipun bekerja di rumah sakit, alih-alih memperoleh keuntungan dalam pandemi ini, rumah sakit malah mengalami defisit keuangan karena penurunan jumlah pasien, penundaan sejumlah operasi, hingga banyaknya poliklinik yang tutup sehingga pemasukan rumah sakit menurun tajam. Hal ini pun diperparah dengan biaya operasional pandemi yang mahal seperti penyediaan alat pelindung diri (APD), penyediaan masker medis, hingga penyediaan hand sanitizer. Belum lagi banyak rumah sakit  yang kehilangan tenaga medis seperti perawat dan dokter yang harus gugur dalam tugas mulia tersebut!

    Memang benar, saya pun tidak bodoh. Saya cukup sering menonton mengikuti komik dan film Marvel ataupun DC, maupun film spionase lainnya, serta buku-buku yang menunjukan bukti dimana sejumlah elit global yang berusaha mengambil keuntungan di tengah kesulitan masyarakat dunia seperti saat perang dan pandemi. Namun yang harus mereka pahami adalah, kesampingkan dahulu siapa yang bersalah dalam pandemi ini, entah itu ulah elit global pemilik industri farmasi dan industri vaksin yang berusaha mencari keuntungan dalam pandemi ini, atau pemerintah Tiongkok yang dianggap menutup-nutupi keberadaan virus ini saat pertama kali muncul di Wuhan. Tolong itu disimpan nanti setelah pandemi ini resmi berakhir. 

    Meski persentase kematian dari pandemi ini minim, dan sebagian besar dari mereka yang wafat karena virus ini adalah mereka yang memiliki penyakit bawaan, tentu saja kita tidak bisa menggap remeh ini semua. Ratusan dokter dan perawat yang gugur dalam tugas ini pun tidak bisa dianggap remeh. Mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga. Banyak diantara mereka adalah dokter spesialis yang langka (rasio masyarakat dan dokter spesialis di Indonesia saja sudah sangat minim sebelum pandemi ini), dimana mereka mendapatkan ilmu tersebut setelah puluhan tahun praktik kedokteran dan menyelesaikan pendidikan kedokteran yang tidak sebentar dan tidak memakan biaya yang murah. Berapa banyak kerugian yang harus kita tanggung untuk regenerasi biaya serta waktu untuk menebus mereka yang gugur tersebut?

    Sudah lebih dari setengah tahun seluruh negara di dunia melawan pandemi COVID-19. Ini memang berat, tapi harus kita hadapi bersama. Mulai dari rakyat biasa, tenaga kesehatan, pemerintah, hingga elit global harus bekerja sama untuk menanggulangi efek dari pandemi ini. Ekonom berkontribusi berpikir bagaimana caranya agar pemulihan ekonomi dapat berjalan dengan cepat, sedangkan para akademisi di bidang sains dan dunia kesehatan berkontribusi dengan menciptakan vaksin COVID-19 yang aman serta lulus uji klinis yang disertifikasi oleh World Health Organization dan segera didistribusikan kepada seluruh masyarakat dunia dengan cara yang efektif dan efisien, serta merata secara bertahap.

    Perlahan, ketika pandemi ini berakhir, kita bangun kembali seluruh industri dan aspek kehidupan kita yang terpaksa mengalami kebangkrutan karena pandemi ini. Dan jika memang benar ini ulah para elit global yang membuat virus ini seperti di film fiksi ilmiah, maupun ini hanyalah permainan para elit global industri farmasi dan industri vaksin yang berusaha mencari keuntungan dengan pandemi ini, kita minta pertanggungjawaban mereka nanti. Saat ini, kita harus bertahan dan bekerja sama terlebih dahulu dalam pandemi. Tetaplah memakai masker dan rajin mencuci tangan, dan berusahalah menghidupi ekonomi kalian masing-masing dengan minimal tetap memakai masker dan rajin mencuci tangan, karena saya tahu, bagian paling sulit adalah menjaga jarak karena kita adalah makhluk sosial.

    *Penulis adalah lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung dan pernah bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here