Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, sebelum memimpin Misa Tengah Malam, menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Ia baru saja kembali dari kunjungan ke Gaza yang hancur akibat perang. “Situasinya benar-benar katastropik. Namun, di sana saya melihat hasrat untuk terus hidup, sama seperti di sini,” ujar Pizzaballa di hadapan kerumunan di Manger Square. “Di tengah ketiadaan, mereka (warga Gaza) tetap mampu merayakan kehidupan.”
Senada dengan itu, Carmelina Piedimonte, seorang peziarah asal Italia, merasa optimis. “Jika di hatimu ada cinta, maka dunia tanpa perang itu mungkin terjadi,” ungkapnya di tengah dentang lonceng gereja.
Semangat serupa terlihat di Damaskus, Suriah. Lampu-lampu Natal menghiasi Kota Tua meskipun komunitas Kristen di sana masih dibayangi trauma serangan bom bunuh diri pada Juni lalu. “Suriah layak mendapatkan kegembiraan dan masa depan baru,” kata Loris Aasaf, seorang mahasiswa setempat.
Namun, suasana berbeda terasa di Australia. Perdana Menteri Anthony Albanese memberikan pesan yang lebih suram menyusul serangan pada perayaan Hanukkah di Pantai Bondi baru-baru ini. “Natal tahun ini akan terasa berbeda. Kita merasakan beban kesedihan yang mendalam di hati kita,” tuturnya.Di tengah kontradiksi dunia antara sorak-sorai perayaan dan duka konflik yang belum usai Natal 2025 menjadi pengingat tentang ketangguhan manusia untuk tetap mencari cahaya di tengah kegelapan.







Selamat atas hari lahir sang manusia suci…
Dan semoga ia segera kembali_
.
.
✋