Peran Teknologi dan Relevansinya bagi Indonesia
Lebih lanjut, dalam paparan orasi ilmiahnya Prof. Antonia juga menyoroti kemajuan teknologi pencitraan dan kecerdasan buatan yang telah membawa pemanfaatan kalsifikasi koroner ke tahap yang lebih maju dalam praktik klinis. Analisis berbasis teknologi memungkinkan pengukuran yang lebih konsisten, efisien, dan terintegrasi, bahkan membuka peluang pemanfaatan data pencitraan yang sebelumnya tidak ditujukan untuk evaluasi jantung. Pendekatan ini mendukung konsep skrining oportunistik, yang dinilai relevan terutama dalam sistem layanan kesehatan dengan sumber daya terbatas namun beban penyakit kardiovaskular yang tinggi.
Di Indonesia dan kawasan Asia, tantangan penyakit kardiovaskular semakin kompleks dengan karakteristik populasi yang berbeda, seperti usia kejadian yang lebih muda, tingginya prevalensi merokok, serta perubahan gaya hidup. Dalam konteks ini, kalsifikasi koroner berpotensi menjadi alat strategis untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi sejak dini, meskipun implementasinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lokal, termasuk aspek fasilitas, biaya, dan literasi kesehatan.
“Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang baru dalam menjadikan kalsifikasi koroner sebagai alat skrining yang lebih luas dan efisien. Namun, penerapannya harus tetap mempertimbangkan konteks lokal, agar dapat memberikan manfaat optimal dalam memperkuat pencegahan penyakit kardiovaskular, baik pada tingkat individu maupun populasi,” ujar Prof. Antonia.
Apresiasi dan Harapan untuk Masa Depan
Turut hadir dan melantik Guru Besar baru, Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng., Sc., menyatakan, “Hari ini merupakan momen yang luar biasa, khususnya bagi Prof. Antonia yang dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-45 di UPH, selamat atas pencapaian ini. Kami berharap Prof. Antonia terus memberikan kontribusi terbaik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan kedokteran,” ujar Rektor UPH.
Suasana semakin hangat saat Dr. (H.C.) James T. Riady, Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), berbagi kisah lewat sambutannya tentang kedekatannya dengan Prof. Antonia. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi sang profesor yang telah merawat kesehatan keluarganya.
“Bagi keluarga kami, Prof. Antonia bukan hanya akademisi, tetapi juga dokter yang telah merawat kami dengan penuh dedikasi. Beliau adalah sosok langka, cerdas, tajam, dan memiliki semangat belajar tinggi yang mampu menjadi dokter hebat sekaligus guru yang hebat. Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, tetapi wujud panggilan untuk melayani dan memajukan pendidikan. Kami berharap gelar ini semakin memperkuat kontribusi beliau dalam mengembangkan FK UPH, khususnya dalam membentuk calon dokter-dokter muda yang lebih baik,” ujar Dr. James.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






